PROPOSAL SKRIPSI
PERLUKAH PENYESUAIAN LAPORAN KEUANGAN KE DALAM METODE ALTERNATIF PADA ANALISIS RASIO KEUANGAN PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR
DI BURSA EFEK INDONESIA?
Oleh:
IKA PRADIPTA HARNANDIKA F1308555
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pelaporan keuangan merupakan media bagi perusahaan untuk menyampaikan informasi tentang perusahaan kepada stakeholders (Mangeswuri, 2005). Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC) No.1 (FASB, 1978) menyebutkan bahwa fungsi pelaporan keuangan adalah menyediakan informasi yang berguna untuk siapa saja yang membuat keputusan ekonomi tentang perusahaan. Agar laporan keuangan dapat bermanfaat bagi pemakainya, maka informasi yang terdapat dalam laporan keuangan tersebut harus berkualitas. Dalam SFAC No.2 (FASB, 1978) disebutkan bahwa salah satu karakteristik kualitatif informasi yang memudahkan pemakai untuk mengidentifikasi similarities dan differences antara dua kesatuan ekonomi dan fenomena. Standar akuntansi Keuangan (IAI, 2002) dalam kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan paragraf 39 menyatakan pemakai harus dapat memperbandingkan laporan keuangan perusahaan antarperiode untuk mengidentifikasi kecenderungan (trend) posisi dan kinerja keuangan. Menurut Suwardjono (2005), perbandingan akan bermakna (meaningful) hanya jika kuantitas (magnitude) karakteristik bersama dihasilkan dengan dasar, standar, prosedur, atau metode yang sama. Standar Akuntansi dimaksudkan untuk menjamin bahwa kualitas keterbandingan antarbadan usaha tinggi. Akan tetapi standar akuntansi juga memberi keleluasaan (discretion) bagi badan usaha untuk memilih perlakuan akuntansi yang paling sesuai dengan kondisi badan usaha. Tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik atau para pemegang saham (Brigham dan Gapenski, 1996). Oleh karena itu terjadi tarik menarik antara perlunya keseragaman (uniformity) dan keragaman (diversity) perlakuan akuntansi. Perlakuan akuntansi yang fleksibel dalam standar akuntansi keuangan memungkinkan perusahaan untuk memilih metode akuntansi sesuai dengan kepentingan mereka. Adanya berbagai pilihan metode akuntansi menimbulkan dugaan bahwa pilihan tersebut akan mempengaruhi laporan keuangan dan rasio keuangan yang berhubungan. Bahkan, pilihan metode akuntansi dapat mempengaruhi keputusan yang berhubungan dengan arus kas misalnya pajak (White, dkk.,1997).
Berbagai penelitian yang menguji kekuatan hubungan informasi laporan keuangan dengan fenomena ekonomi, menggunakan analisis rasio keuangan yang dapat dihitung dari informasi yang terkandung dalam laporan keuangan (Machfoedz, 1994). Penelitian-penelitian tersebut misalnya mengenai prediksi kebangkrutan, prediksi bond rating, dan prediksi perubahan earnings. Analisis yang sering dipakai dalam teknik cross-sectional adalah perbandingan rasio-rasio keuangan antarperusahaan (Foster, 1986). Apabila metode akuntansi yang dipakai antarperusahaan berbeda-beda, bagaimana rasio keuangan antarperusahaan dapat dibandingkan? Oleh karena itu, tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penyesuaian laporan keuangan ke dalam metode akuntansi alternatif diperlukan dalam analisis rasio. Untuk mengetahuinya peneliti menguji dengan cara menghitung rasio keuangan perusahaan-perusahaan yang menggunakan metode akuntansi yang sama kemudian membandingkannya dengan rasio keuangan dari perusahaan-perusahaan tersebut setelah laporan keuangan mereka disesuaikan ke dalam metode akuntansi alternatif.
Berbagai penelitian di bidang akuntansi keuangan sering menggunakan analisis rasio keuangan baik sebagai variabel ataupun proxy suatu variabel penelitian. Salah satu risiko analisis rasio keuangan adalah perbedaan metode akuntansi yang digunakan. Meskipun risiko tersebut dapat dikurangi dengan adanya disclosure, yaitu adanya pengungkapan metode akuntansi yang digunakan pada catatan atas laporan keuangan, akan tetapi pengungkapan tersebut tidak mencantumkan besaran nilai atau nominal sebagai dampak perbedaan metode akuntansi yang digunakan. Akibatnya, pemakai laporan keuangan sulit untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perbedaan metode akuntansi tersebut terhadap rasio keuangan. Oleh karena itu penelitian ini penting untuk dilakukan. Apabila dari penelitian ini membuktikan bahwa penyesuaian laporan keuangan ke dalam metode alternatif mempunyai pengaruh terhadap rasio keuangan yang dihitung dari informasi yang terkandung dalam laporan keuangan, maka untuk penelitian selanjutnya yang menggunakan analisis rasio keuangan sebaiknya menyesuaikan laporan keuangan yang menjadi sampel penelitian ke dalam metode akuntansi yang sama. Dengan demikian rasio keuangan antarperusahaan-perusahaan sampel penelitian dapat dibandingkan.
B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan yang akan diteliti dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah penyesuaian laporan keuangan ke dalam metode alternatif berpengaruh terhadap rasio keuangan yang dihitung dari informasi yang terkandung dalam laporan keuangan?
2. Seberapa besar pengaruh perbedaan metode akuntansi terhadap rasio keuangan?
3. Apakah perbedaan metode akuntansi perlu diperhatikan dalam analisis rasio keuangan?
4. Apakah terdapat perbedaan rasio-rasio keuangan perusahaan akibat penyesuaian laporan keuangan ke dalam metode akuntansi yang berbeda?
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui apakah penyesuaian laporan keuangan ke dalam metode alternatif berpengaruh terhadap rasio keuangan yang dihitung dari informasi yang terkandung dalam laporan keuangan.
2. Mengetahui pengaruh perbedaan metode akuntansi terhadap rasio keuangan.
3. Mengetahui apakah perbedaan metode akuntansi perlu diperhatikan dalam analisis rasio keuangan.
4. Mengetahui apakah terdapat perbedaan rasio-rasio keuangan perusahaan akibat penyesuaian laporan keuangan ke dalam metode akuntansi yang berbeda.
D. MANFAAT PENELITIAN
Dengan penelitian ini diharapkan akan memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap apakah penyesuaian laporan keuangan ke dalam metode alternatif diperlukan dalam analisis rasio, secara rinci penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat:
1. Bagi pemakai laporan keuangan, dapat memahami apakah perlu memperhatikan perbedaan metode akuntansi atau tidak dalam menganalisis laporan keuangan.
2. Bagi peneliti, memberikan dasar empiris dalam melakukan analisis cross-sectional apabila menggunakan analisis rasio keuangan dalam menguji kekuatan hubungan informasi laporan keuangan dengan fenomena ekonomi.
3. Bagi Badan Penyusun Standar Akuntansi Keuangan (SAK), apabila penelitian ini menghasilkan bukti bahwa rasio keuangan berbeda karena perbedaan metode akuntansi, maka penelitian ini dapat dijadikan dasar meninjau kembali fleksibilitas dalam menggunakan metode akuntansi.
E. TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Telaah Pustaka
1. Uniformity dan Comparability
Terdapat dua pendekatan perlakuan akuntansi yaitu keseragaman dan keragaman. Sementara pendekatan keseragaman mempunyai dua tingkat, yaitu keseragaman rigid dan keseragaman finite (Wolk, dkk.,2001). Keseragaman finite adalah keseragaman yang terbatas yaitu usaha untuk menyamakan metode akuntansi yang ditentukan dengan keadaan relevan dalam situasi yang secara umum sama. Keseragaman rigid adalah keseragaman yang kaku yaitu menentukan satu metode akuntansi untuk transaksi yang secara umum sama walaupun terdapat keadaan yang relevan. Sedangkan pendekatan keragaman mempunyai sifat yang fleksibel artinya manajemen mempunyai kebebasan memilih metode akuntansi tanpa peduli apakah keadaannya sama atau tidak. Dalam akuntansi, konsep keseragaman (uniformity) overlap dengan komparabilitas (Wolk, dkk. 2001). Keseragaman adalah konsep yang mempengaruhi komparabilitas. Oleh karena komparabilitas dihubungan dengan keseragaman, tingkat komparabilitas dalam hal pemakai dapat mengandalkannya secara langsung, tergantung pada tingkat keseragaman yang ditampilkan dalam dalam laporan keuangan. Tujuan utama keterbandingan adalah memudahkan pemakai laporan keuangan untuk pengambilan keputusan. Tujuan kebijakan akuntansi sedapat mungkin untuk mempersempit perbedaan dalam pelaporan keuangan antarperusahaan. Dengan kata lain, melalui kebijakan akuntansi sulit untuk memaksakan keseragaman yang kaku karena dalam memilih prosedur akuntansi manajemen pasti mempunyai alasan yang kuat dan sesuai dengan keadaan perusahaan. Manajemen juga mempertimbangkan biaya dan manfaat ketika menentukan pilihan metode akuntansi. Ketika dihadapkan pada dua pilihan metode akuntansi yang mempunyai manfaat yang sama, manajemen pasti akan memilih metode akuntansi yang paling sedikit biayanya.
2. Rasio Keuangan
Rasio keuangan digunakan untuk membandingkan tingkat risiko dan pengembalian antarperusahaan untuk membantu investor dan kreditor dalam mengambil keputusan investasi maupun kredit. Perbandingan tersebut dapat dilakukan antarwaktu dalam satu perusahaan (time series) maupun antarperusahaan dalam suatu waktu (cross sectional).
Menurut White, dkk. (1997), rasio dapat menyediakan gambaran perusahaan, karakteristik ekonomi dan strategi kompetitif, serta karakteristik operasi, keuangan, dan investasi. Pilihan metode akuntansi dapat mempengaruhi jumlah angka-angka yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Akibatnya rasio keuangan yang dihitung dari angka-angka yang dilaporkan dalam laporan keuangan akan kehilangan daya banding antarperusahaan yang berbeda metode akuntansinya dan antarwaktu dalam suatu perusahaan apabila perusahaan mengganti metode akuntansi yang dipakai. Untuk mengatasi hal tersebut mungkin perlu untuk mengkonversi atau menyesuaikan dari satu metode akuntansi ke metode akuntansi lainnya.
3. Metode Akuntansi Persediaan
Secara umum istilah persediaan barang dipakai untuk menunjukkan barang-barang yang dimiliki untuk dijual kembali atau digunakan untuk memproduksi barang-barang yang akan dijual (Baridwan, 2004). Dalam perusahaan dagang semua persediaan yang dimiliki dimaksudkan untuk dijual kembali, sehingga hanya mempunyai satu jenis persediaan yaitu persediaan barang dagangan. Jumlah persediaan yang ada dalam neraca adalah jumlah persediaan akhir. Persediaan akhir, baik pada perusahaan dagang maupun manufaktur harus dinilai, karena akan menentukan besarnya harga pokok pembelian pada perusahaan dagang dan manufaktur, dan harga pokok produksi pada perusahaan manufaktur. Harga pokok produk tersebut yang akan menentukan besarnya laba perusahaan yang dilaporkan dalam laporan laba rugi.
Metode penilaian persediaan yang diijinkan oleh PSAK No. 14 paragraf 20 (IAI, 2002), adalah metode first in first out (FIFO) atau masuk pertama keluar pertama (MPKP), last in first out (LIFO) atau masuk terakhir keluar pertama (MTKP), dan rata-rata. Metode persediaan apa yang akan dipakai menjadi permasalahan dalam perhitungan laba yang tepat, dan pemilihan metode persediaan tersebut dipengaruhi oleh harga. Ketika harga naik atau turun secara tajam pemilihan metode FIFO atau LIFO menimbulkan masalah dalam mengukur laba yang tepat. Ketika terjadi kenaikan harga, dilihat dari laporan laba rugi, terdapat dua alasan yang menghasilkan pemilihan metode persediaan yang saling bertentangan. Dilihat dari kepentingan shareholders, maka lebih baik melaporkan persediaan dengan menggunakan metode FIFO, karena menghasilkan laba yang lebih besar, sehingga pendistribusian kesejahteraan kepada mereka lebih besar. Akan tetapi dengan menggunakan asumsi going concern, perusahaan yang menjual persediaan perlu untuk menggantinya secara konstan untuk penjualan di masa yang akan datang (White, dkk., 1997). Oleh karena itu metode LIFO lebih cocok digunakan, tetapi tidak diinginkan oleh shareholders karena menghasilkan angka laba yang lebih kecil. Selisih antara laba yang dihasilkan dengan menggunakan kedua metode tersebut disebut holding gain atau inventory profit.
Dalam neraca, informasi persediaan akhir dengan menggunakan metode FIFO menghasilkan informasi yang relevan dengan keadaan yang sebenarnya atau curent value, karena harga persediaan mencerminkan harga sekarang. Akan tetapi jika menggunakan metode LIFO, angka persediaan menjadi tidak relevan karena tidak mencerminkan harga sekarang.
4. Metode Akuntansi Penyusutan
Penyusutan atau depresiasi adalah sebagian dari harga perolehan aktiva tetap yang secara sistematis dialokasikan menjadi biaya setiap periode (Baridwan, 2004). Di dalam PSAK No. 17 paragraf 8 (IAI, 2002), dinyatakan bahwa jumlah yang disusutkan dialokasi ke setiap periode akuntansi selama masa manfaat aktiva dengan berbagai metode yang sistematis. Metode manapun yang dipilih, konsistensi dalam penggunaannya adalah perlu, tanpa memandang tingkat profitabilitas perusahaan dan pertimbangan perpajakan, agar dapat menyediakan daya banding hasil operasi perusahaan dari periode ke periode.
Sondakh (1993) yang menguji faktor-faktor yang mempengaruhi pada pemilihan metode depresiasi menemukan bahwa kompensasi manajemen dan leverage secara signifikan mempengaruhi perusahaan dalam memilih metode depresiasi. Perusahaan yang memilih program kompensasi manajemen cenderung memilih metode depresiasi yang dapat menambah jumlah laba yang dilaporkan. Selain itu, perusahaan dengan rasio leverage tinggi cenderung memilih metode depresiasi yang dapat menambah jumlah laba yang dilaporkan dibanding perusahaan dengan rasio leverage rendah. Hal tersebut menunjukkan bahwa metode depresiasi dipilih oleh manajemen untuk mengatur laba mereka. Oleh karena laba sangat berpengaruh terhadap laporan keuangan, maka rasio-rasio keuangan yang berhubungan juga akan terpengaruh.
5. Earnings Management dan Pilihan Metode Akuntansi
Earnings management adalah tindakan yang dilakukan oleh manajer dalam hal manajer akan memilih kebijakan-kebijakan yang memaksimalkan utilitas mereka dan atau nilai pasar perusahaan (Scott, 1997). Hal tersebut wajar dilakukan karena manajer mempunyai kepentingan yang kuat dalam pilihan kebijakan akuntansi, dan manajer dapat memilih kebijakan akuntansi dari sekumpulan kebijakan (misalnya GAAP atau SAK).
Terdapat dua tipe earnings management yaitu discretionary accrual dan nondiscretionary accrual (Scott, 1997). Discretionary accrual adalah accrual yang diciptakan oleh manajemen karena mempunyai kebebasan dalam mengontrol jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Hal tersebut berkaitan dengan fleksibilitas dalam pemilihan metode akuntansi, misalnya pemilihan metode persediaan atau depresiasi. Nondiscretionary accrual adalah accrual yang terjadi karena kebijakan mengenai estimasi akuntansi misalnya taksiran umur aktiva tetap.
Angka-angka akuntansi adalah suatu bagian integral dari kontrak formal dan informal perusahaan (Watts and Zimmerman, 1986). Dasar teori akuntansi mengenai kontrak tersebut adalah suatu premis yang menyatakan bahwa manajer memilih prosedur akuntansi tertentu untuk secara efisien memaksimalkan nilai perusahaan dan secara oportunistik membuat keadaan manajer lebih baik yang menjadi beban beberapa pihak lain yang terlibat dalam kontrak (Holthousen, 1990).
Pilihan prosedur akuntansi adalah salah satu cara untuk menutupi pembelanjaan yang dilakukan oleh manajer yang tidak meningkatkan nilai perusahaan dari pihak luar (Christie dan Zimmerman, 1994). Alasannya, pihak luar tidak mempunyai akses untuk mendapatkan semua ukuran yang terlibat dalam perhitungan akuntansi. Hal tersebut menyulitkan pihak luar untuk menentukan apakah metode akuntansi yang dipakai adalah metode akuntansi yang dapat meningkatkan nilai perusahaan atau tidak. Contohnya, ketika perusahaan menggunakan metode FIFO untuk menghitung persediaan, pihak luar tidak dapat membandingkan nilai persediaan jika dihitung dengan menggunakan metode yang lain, karena ketidaktersediaan data dalam laporan keuangan.
Variabel laporan keuangan yang biasanya dipakai oleh pemakai adalah rasio keuangan. Oleh karena itu, manajer berusaha meningkatkan nilai perusahaan dengan memilih metode akuntansi yang membuat rasio-rasio keuangan perusahaan terlihat bagus.
Penelitian Terdahulu
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang sebelumnya telah dilakukan oleh Dawson, dkk. (1980), yang menguji apakah perbedaan metode akuntansi mengakibatkan perbedaan yang cukup signifikan pada laporan keuangan, menguji pengaruh penyesuaian laporan keuangan ke dalam metode akuntansi alternatif terhadap rasio-rasio keuangan, penyesuaian yang dibuat menyangkut dua metode akuntansi yaitu metode persediaan dan penyusutan. Dipilihnya kedua metode tersebut karena, pertama, keduanya adalah metode akuntansi yang dapat dipilih secara bebas atau fleksibel oleh manajemen. Dalam hal ini, manajemen tidak memerlukan syarat atau kondisi tertentu untuk memilih salah satu metode, sehingga diduga manajemen akan memilih metode yang sesuai dengan kepentingannya yang membuat kinerjanya terlihat bagus. Kinerja yang bagus tercermin dari rasio keuangan yang dihitung dari laporan keuangan. Kedua, pemilihan metode akuntansi persediaan dan penyusutan mempunyai pengaruh yang substansial terhadap laba bersih perusahaan. Oleh karena itu, kedua metode tersebut digunakan untuk menentukan apakah perusahaan cenderung memilih metode akuntansi yang meningkatkan laba atau menurunkan laba (Christie dan Zimmerman, 1994; Bowen, 1995).
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Dawson, dkk. (1980) antara lain:
1. Pendekatan yang digunakan untuk menyesuaikan jumlah persediaan akhir atau harga pokok penjualan yang dilaporkan ke dalam metode yang berbeda. Kalau penelitian mereka tidak menyebutkan rumus atau model untuk penyesuaian maka penelitian ini menggunakan pendekatan yang dibuat oleh White, dkk. (1997).
2. Penelitian mereka tidak membandingkan tiga alternatif metode persediaan yang diuji dalam penelitian ini, yaitu FIFO, LIFO, dan rata-rata tertimbang sebagaimana penelitian ini lakukan.
3. Oleh karena tingkat inflasi sangat berpengaruh terhadap hasil penelitian, maka penelitian ini menggunakan sampel yang terdiri dari lima tahun, sehingga diharapkan mempunyai data tingkat inflasi yang beragam.
4. Oleh karena persediaan antar industri beragam, sedangkan penelitian ini lebih berfokus pada persediaan dan penyusutan, maka penelitian ini membagi sampel ke dalam kelompok industri manufaktur agar dapat mengetahui konsistensi hasil penelitian karena kemungkinan perbedaan metode akuntansi persediaan akan berpengaruh terhadap rasio keuangan pada suatu industru sedangkan industri yang lain tidak.
Pengembangan Hipotesis
Dari uraian di atas, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
HA: Terdapat perbedaan rasio-rasio keuangan perusahaan akibat penyesuaian laporan keuangan ke dalam metode akuntansi yang berbeda.
Selanjutnya dirumuskan hipotesis A secara parsial sebagai berikut:
HA1: Terdapat perbedaan rasio-rasio keuangan perusahaan akibat penyesuaian laporan keuangan dari metode akuntansi persediaan FIFO ke dalam metode akuntansi persediaan LIFO.
HA2: Terdapat perbedaan rasio-rasio keuangan perusahaan akibat penyesuaian laporan keuangan dari metode akuntansi persediaan FIFO ke dalam metode akuntansi persediaan rata-rata tertimbang.
HA3: Terdapat perbedaan rasio-rasio keuangan perusahaan akibat penyesuaian laporan keuangan dari metode akuntansi penyusutan garis lurus ke dalam metode akuntansi penyusutan double declining balance method.
HA4: Terdapat perbedaan rasio-rasio keuangan perusahaan akibat penyesuaian laporan keuangan dari metode akuntansi persediaan FIFO dan metode akuntansi penyusutan garis lurus ke dalam metode akuntansi persediaan LIFO dan metode akuntansi penyusutan double declining balance method.
HA5: Terdapat perbedaan rasio-rasio keuangan perusahaan akibat penyesuaian laporan keuangan dari metode akuntansi persediaan FIFO dan metode akuntansi penyusutan garis lurus ke dalam metode akuntansi persediaan rata-rata tertimbang dan metode akuntansi penyusutan double declining balance method.
F. METODE PENELITIAN
Data, Populasi, dan Sampel
Penelitian ini menggunakan data laporan keuangan tahun 2004 sampai tahun 2008. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang melaporkan keuangannya dengan lengkap tahun 2004 sampai dengan tahun 2008. Sampel dipilih dari populasi perusahaan yang sahamnya terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, berdasarkan purposive sampling dengan kriteria sebagai berikut:
1. Menggunakan metode FIFO dalam perhitungan persediaan baik untuk induk maupun anak perusahaan.
2. Menggunakan metode garis lurus dalam perhitungan penyusutan baik untuk induk maupun anak perusahaan.
3. Dalam hal perusahaan yang menggunakan metode garis lurus dalam perhitungan penyusutan, masa manfaat aktiva tetap sama antara perusahaan induk maupun anak.
Data inflasi yang digunakan dalam metode persediaan adalah bersumber dari Bank Indonesia.
Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Variabel penelitian yang akan diuji dalam penelitian ini adalah rasio-rasio keuangan menurut kategori Foster (1986: 60), yaitu rasio-rasio keuangan yang terpengaruh oleh penyesuaian metode akuntansi dalam penelitian ini:
1. Cash Position
Cash position didefinisikan sebagai hasil bagi antara jumlah cash dan marketable securities terhadap total assets dan current liabilities.
2. Liquidity
Liquidity diukur dari current ratio dan quick ratio.
3. Working Capital
Variabel working capital diukur dengan rasio antara modal kerja kegiatan operasi terhadap total aset dan penjualan, juga arus kas dari kegiatan operasi terhadap total asset.
4. Capital Structure
Capital Structure atau Leverage merupakan rasio antara kewajiban jangka panjang serta jumlah kewajiban lancar dan kewajiban jangka panjang terhadap ekuitas pemegang saham.
5. Debt Service Coverage
Variabel debt service coverage dikukur dengan rasio antara operating income terhadap annual interent payment.
6. Profitability
Profitability diukur dengan menggunakan ROA, ROE, atau rasio antara net income terhadap revenues, total assets, dan shareholder's equity.
7. Turnover
Variabel turnover dikukur melalui asset turnover dan inventory turnover.
Langkah-langkah Pengolahan Data
1. Penyesuaian elemen-elemen laporan keuangan
Penyesuaian metode penyusutan adalah penyesuaian dari metode garis lurus ke metode depresiasi dipercepat yaitu double declining balance method. Data mengenai penyusutan yang ada dalam laporan keuangan memadai untuk dilakukan penyesuaian.
Penyesuaian metode persediaan adalah penyesuaian dari metode FIFO ke metode LIFO dan metode rata-rata tertimbang. Akan tetapi data mengenai persediaan yang ada dalam laporan keuangan tidak memadai untuk dilakukan penyesuaian, sehingga digunakan suatu model pendekatan dari White, dkk. (1997), sebagai berikut:
COGSL = COGSF + (BIF x r)........................1)
Dalam hal ini,
COGSL = cost of goods sold LIFO
COGSF = cost of goods sold LIFO
BIF = beginning inventory FIFO
r = tingkat inflasi
Rumus 1) diturunkan dari:
Perbedaan COGSFIFO dan COGSLIFO akan tampak sebagai berikut:
Jika dilihat dari gambar di atas, bagian yang sama dari COGSFIFO dan COGSLIFO adalah Q1, Q2, dan Q3, sehingga perbedaan antara dua metode tersebut adalah perbedaan antara Q0 (cost of beginning) dan Q4 (ending inventory).
Dengan asumsi bahwa pembelian inventory tiap periode adalah sama, dan terjadi kenaikan harga, maka sebenarnya perbedaan antara COGSFIFO dan COGSLIFO adalah perbedaan harga per unit, sedangkan jumlah unitnya adalah sama. Demikian halnya dengan unit yang dilaporkan sebagai persediaan akhir dalam neraca, unit persediaan akhir antara metode FIFO dan LIFO tidak berbeda akan tetapi ketika dikalikan dengan harga per unit maka jumlah persediaan akhir menjadi berbeda.
Perhitungan perbedaan tersebut adalah sama dengan:
Q4 – Q0 = Q0P(1 + r) – Q0P = Q0 Pr
Dalam hal ini, P adalah price.
Oleh karena COGSLIFO adalah COGSFIFO ditambah perbedaan perhitungan inventory antara dua metode, maka:
COGSL = COGSF + Q0 Pr
COGSL = COGSF + (Beginning inventory FIFO x r)
Menurut White, dkk. (1997), penyesuaian COGS rata-rata tertimbang (COGSW) ke COGSLIFO dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti penyesuaian dari FIFO ke LIFO, akan tetapi pendekatan yang dilakukan adalah mengalikan pesediaan awal dengan setengah tingkat inflasi. Pendekatan tersebut adalah sebagai berikut:
COGSL = COGSW + (BIW x ½ r )
Rumus di atas tidak dapat digunakan dalam penelitian ini karena penyesuaian yang akan dibuat dalam penelitian ini adalah dari COGS FIFO (COGSF) ke COGS rata-rata tertimbang (COGSW). Oleh karena itu rumus di atas perlu disesuaikan, sebagai berikut:
COGSW = COGSF + (BIF x ½ r )
2. Menghitung rasio-rasio keuangan sebelum penyesuaian dan setelah penyesuaian.
Setelah data persediaan dan penyusutan disesuaikan atau dikonversi ke dalam metode yang berbeda, maka elemen-elemen yang bersangkutan disesuaikan. Pada neraca elemen yang perlu disesuaikan yaitu persediaan, aktiva tetap, hutang pajak, dan ekuitas. Sedangkan pada laporan laba rugi, elemen yang perlu disesuaikan adalah harga pokok penjualan (COGS), laba operasi, laba kotor, beban atau manfaat pajak, dan laba bersih. Selanjutnya setelah elemen-elemen dalam laporan keuangan disesuaikan, dilakukan perhitungan rasio keuangan.
Pengujian Hipotesis
Sebelum hipotesis diuji, data rasio keuangan sebelum dan setelah penyesuaian diuji apakah distribusi data tersebut normal atau tidak. Jika distribusi data sebelum dan setelah penyesuaian adalah normal, pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan alat uji compare means paired-sample T test. Apabila salah satu data tidak normal atau keduanya, maka pengujian hipotesis menggunakan alat uji non parametrik Wilcoxon Signed Ranks Test (Neter, dkk., 1993).
Metode Analisis Data
1. Uji compare means paired-sample T test
Sebelum hipotesis diuji, data rasio keuangan sebelum dan setelah penyesuaian diuji apakah distribusi data tersebut normal atau tidak. Jika distribusi data sebelum dan setelah penyesuaian adalah normal, pengujian hiptesis dilakukan dengan menggunakan alat uji compare means paired-sample T test (Neter, dkk. 1993).
2. Uji non parametrik Wilcoxon Signed Rank Test
Apabila sebelum hipotesis diuji, data rasio keuangan sebelum dan setelah penyesuaian diuji, salah satu data tidak normal atau keduanya, maka pengujian hipotesis menggunakan alat uji non parametrik Wilcoxon Signed Rank Test (Neter, dkk. 1993).
3. Uji Sensitivitas
Analisis sensitivitas dimaksudkan untuk mengetahui konsistensi hasil penelitian apabila sampel dipecah menjadi lima dan diuji tersendiri untuk setiap tahun, karena masing-masing tahun mempunyai tingkat inflasi yang berbeda, analisis ini tidak dilakukan pada penyesuaian metode penyusutan. Analisis sensitivitas yang dilakukan pada penyesuaian kombinasi dimaksudkan untuk melihat pengaruh gabungan metode penyusutan terhadap metode persediaan.
DAFTAR PUSTAKA
Baridwan, Zaki. 2004. Intermediate Accounting. Edisi 8. Yogyakarta: BPFE.
Bank Indonesia (BI). 2004. Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia. Vol. VI. No. 12.
Bowen, Robert M, Larry DuCharme, dan D Shores. 1995. “Stakeholders’ Implicit Claims and Accounting Method Choice.” Journal of Accounting and Economics. Vol. 20.
Christie, Andrew A, dan Jerold L. Zimmerman. 1994. “Efficient and Opportunistic Choices of Accounting Procedures: Corporate Control Contests.” The Accounting Review. Vol. 69. No. 4.
FASB. 1978. Statement of Financial Accounting Concepts. Connecticut.
Foster, George. 1986. Financial Statement Analysis. Edisi 2. New Jersey: Prentice-Hall.
Healy, P.,& J.M.Wahlen. 19990 A Review of the Earnings Management Literature and Its Implications for Standard Setting. Accounting Horizon. Vol 13: 365-383.
Houltausen, R. 1990. “Accounting Method Choice: Opportunistic Behavior, efficient Contracting, and Information Perspectives.” Journal of Accounting and Economics. Vol. 12.
IAI. 2002. Standar Akuntansi Keuangan Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.
Machfoedz, Mas’ud. 1994. “Financial Ratio Analysis and Prediction of Earnings Changes in Indonesia.” Kelola. No. 7. Vol. III.
Mangeswuri, Dewi Restu. 2005. "Pengaruh Pengungkapan Sukarela Terhadap Nilai Perusahaan yang Dimoderasi Struktur Kepemilikan Pada Perusahaan Menufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Jakrta." Thesis STIE YKPN Yogyakarta.
Neter, John, William Wasserman, dan G. A. Whitemore. 1993. Applied Statistics. Edisi 4, Boston: Allyn and Bacon,.
Rakhman, Fu'ad. "Analisis Hubungan Antara Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan dengan Srtuktur Modal dan Tipe Kepemilikan Perusahaan." Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol 15, No.1, 2000, Hal. 70-82.
Scott, William R. 2003. Financial Accounting Theory 3rd Ed. Prentice-Hall.
Sondakh, Julie Jeanette. 1993. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pada Pemilihan Metode Depresiasi. Thesis S-2. Fakultas Pasca Sarjana. Universitas Gadjah Mada.
Suwardjono. 2005. Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Edisi 3, Yogyakarta: BPFE.
Watts, Ross L, dan Jerold L. 1986. Zimmerman. Positive Accounting Theory. New Jersey: Prentince Hall.
White, Gerald I, Ashwinpaul C Sondhi, dan Dov Fried. 1997. The Analysis and Use of Financial Statements. Edisi 2. New York: John Wiley & Sons, Inc.
Wolk, Harry I, Michael G. Tearney, dan James L. Dodd. 2001. Accounting Theory: A Conceptual and Institutional Approach. Cincinnati: South-Western College Publishing.
.
weLCome to iKainheRe's hOmepaGe
oPen YouR minD
iKainheRe Tells About Her Self
Tampilkan postingan dengan label Metodologi Penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metodologi Penelitian. Tampilkan semua postingan
Desember 31, 2009
Desember 20, 2009
Bimbang...
Ya Tuhan..
Gw bimbang..
Untuk kesekian kalinya gw bimbang..
Entah kenapa gw berpikir kalau gw gga boleh salah pilih..
Gw harus memilih judul skripsi dengan tepat..
Gw bimbang antara beberapa tema skripsi..
Hadoh.
kirain bimbang kenapa (dies) hahahahaha
Gw bimbang..
Untuk kesekian kalinya gw bimbang..
Entah kenapa gw berpikir kalau gw gga boleh salah pilih..
Gw harus memilih judul skripsi dengan tepat..
Gw bimbang antara beberapa tema skripsi..
Hadoh.
kirain bimbang kenapa (dies) hahahahaha
Label:
Metodologi Penelitian
Presentasi Proposal Skripsi
Howh udda lama banget rasanya gw gga mampir kesini.. Terlalu banyak bahan tulisan jadinya malah bingung mw nyampahnya. Ada juga tiap posting gga gw publish tapi gw save as draft. Gw rasa terlalu 'dangerous' kalo gw publish. :D
Today hari Minggu, besok Rabu gw harus presentasi proposal skripsi, di kelas Metodologi Penelitian. Masalahnya, gw belum memutusin ngambil tema apa buat presentasi nanti. Parah kan. Lagian skripsi masih lama napa juga kudu mikirin sekarang, saat masih banyak hal butuh buat dipikirin.
Today hari Minggu, besok Rabu gw harus presentasi proposal skripsi, di kelas Metodologi Penelitian. Masalahnya, gw belum memutusin ngambil tema apa buat presentasi nanti. Parah kan. Lagian skripsi masih lama napa juga kudu mikirin sekarang, saat masih banyak hal butuh buat dipikirin.
Label:
Feels,
Metodologi Penelitian
Desember 19, 2009
TEKANAN ANGGARAN WAKTU PADA PERILAKU MENGURANGI KUALITAS AUDIT, SELF EFFICIACY, DAN TASK COMPLEXITY SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI
TEKANAN ANGGARAN WAKTU PADA PERILAKU MENGURANGI KUALITAS AUDIT, SELF EFFICIACY, DAN TASK COMPLEXITY SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI
Peran auditor sebagai pihak yang independen sangat dibutuhkan dalam dunia bisnis mengingat semakin meningkatnya kebutuhan jasa audit seiring dengan perkembangan pasar modal dan pertumbuhan bisnis. Auditor harus mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diberikan secara profesional dengan memberikan hasil audit yang tepat waktu dan berkualitas. Berbagai penelitian seputar identifikasi adanya tipe-tipe perilaku disfungsional auditor, menganggap perilaku tersebut sangat berhubungan dengan anggaran waktu, dan menganggap perilaku tersebut sangat berhubungan dengan anggaran waktu dan sistem pengendalian secara keseluruhan (Otley et al. 1996). Penelitian yang menunjukkan bahwa perilaku disfungsional auditor diukur berdasarkan anggaran yang ketat pada tingkat yang berbeda (Kelley dan Margheim 1990).
Penyebab tekanan anggaran waktu adalah adanya persaingan antar kantor akuntan publik (KAP), yang menyebabkan pula penurunan fee yang berakibat pemendekan anggaran waktu guna menyeimbangkan biaya pengendalian dan keefektifan tugas audit. Tekanan anggaran waktu dapat membahayakan kualitas audit. Persaingan antar KAP juga menimbulkan dilema inherent cost dengan standar kualitas audit. Hambatan yang dihadapi KAP adalah standar profesional dan kewajiban mengarahkan auditor pada level kualitas yang tinggi, kos yang berdampak pada penurunan kualitas audit. Manfaat anggaran waktu adalah membantu KAP dalam perencanaan, pengalokasian personil, evaluasi audit, penetapan fee, dan pengefisienan kerja dari tiap tahapan audit.
Penelitian Kelley dan Seiler (1992) menunjukkan kriteria penting untuk memperoleh peringkat yang baik adalah pencapaian anggaran waktu. Penelitian Braun (2000) mengatakan bahwa pengaruh negatif dari munculnya perilaku yang mengancam kualitas audit adalah menurunnya tingkat pendeteksian dan penyelidikan aspek kualitatif salah saji, sedangkan menurut Kelley dan Margheim (1992), pengaruh negative itu adalah gagal meneliti prinsip akuntansi dan me-review dokumen secara dangkal, menerima penjelasan klien yang lemah dan mengurangi pekerjaan pada salah satu langkah audit di bawah tingkat yang diterima.
REVIEW LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Tekanan Anggaran Waktu Otely, et al. (1996) mengatakan bahwa peningkatan persaingan diantara KAP telah meningkatkan tekanan agar mengurangi besarnya fee audit. Alderman dan Deitrick (1982) mengatakan penetapan anggaran waktu sangat membantu KAP dalam perencanaan, pengalokasian personil, pengevaluasian audit, penentuan fee, dan pengefisienan kinerja dari tiap tahapan audit. Solomon dan Brown (1992) mengatakan literatur audit membedakan antara time budget pressure dan time deadline pressure dimana tekanan anggaran waktu muncul karena kebutuhan untuk menyelesaikan tugas audit berdasarkan waktu tertentu, dan karena jumlah waktu dialokasikan manajemen KAP untuk menyesuaikan tugas audit.
Perilaku Penurunan Kualitas Audit
Riyadeni (2003) mengatakan bahwa kualitas pekerjaan auditor berhubungan dengan kualifikasi keahlian, ketepatan waktu penyelesaian pekerjaan dengan kualifikasi keahlian, ketepatan waktu penyelesaian pekerjaan, kecukupan bukti pemeriksaan yang digunakan untuk mendukung pendapat auditor dan sikap independensinya terhadap klien. Khomsiyah dan Indriantoro (1998) mebunjukkan bahwa auditor harus mempertahankan integritas dan objektivitas dalam melaksanakan tugas, bertindak jujut dan tegas, tanpa pretensi, bertindak adil tanpa dipengaruhi tekanan atau pihak tertentu.
Hubungan Tekanan Anggaran Waktu dan Penurunan Kualitas Audit
Otley et al. (1996) mengatakan bahwa peningkatan persaingan yang ketat dalam jasa audit berdampak pada penurunan anggaran waktu yang diikuti peningkatan tekanan untuk mengurangi besar fee audit yang berakibat menurunnya kualitas audit. Kelley dan Margheim (1992) menemukan bahwa tekanan fee memberikan insentif bagi para auditor untuk menekankan pada pengendalian biaya yang dihasilkan dalam bentuk anggaran waktu yang berkurang dan kualitas audit yang lebih rendah. Dezoort (2002) membedakan tekanan anggaran waktu menjadi dua yaitu time deadline pressure dan time budget pressure.
Hubungan Tekanan Anggaran Waktu dan Self Time Efficacy dengan Perilaku Penurunan Kualitas Audit
Kreiler dan Kinicki (2001) mengatakan bahwa self-efficacy muncul secara lambat laun melalui pengamalan kemampuan-kemampuan kognitif, sosial, bahaya, dan atau fisik yang rumit. Bandura (1988) mengatakan self-efficacy bersumber dariteori belajar sosial yang menekankan hubungan kausal timbal balik antara faktor lingkungan, perilaku, dan faktor personal yang saling berkaitan. Bandura san Achunk (1999) menemukan adanya hubungan yang signifikan antara persepsi individu mengenai efikasi dirinya dengan persepsi dalam berbagai performasi individu tersebut. Prost dan Koesler (1998) mengatakan bahwa teori self-efficacy menyediakan kerangka konseptual untuk digunakan pada studi keperilakuan untuk memahami perilaku dan untuk menjelaskan keberhasilan individu atau kelompok dalam pencapaian tujuan. Coram et al. (2004) menjelaskan bahwa stress dalam pekerjaan membawa pengaruh pada psikis, fisik, dan perubahan perilaku negatif pada individu dan karyawan. Hipotesis pertama adalah "interaksi antara tekanan anggaran waktu dengan self-efficacy akan mempengaruhi perilaku penurunan kualitas audit."
Hubungan Tekanan Anggaran Waktu dan Kompleksitas Tugas dengan Perilaku Penurunan Kualitas Audit
Cheng et al. (2001) menunjukkan jika tugas lebih kompleks, outcomes akan semakin jauh dari yang diharapkan. Boner (1994) membedakan kompleksitas tugas ke dalam high complexity dan low complexity. Ada tiga alasan kompleksitas tugas perlu diperiksa dalam situasi audit. Ton et al. (t002) dan Boner (1994) menunjukkan bahwa kinerja secara umum menurun jika kompleksitas tugas meningkat. Hipotesis kedua adalah "interaksi antara tekanan anggaran waktu dengan kompleksitas tugas akan mempengaruhi perilaku penurunan kualitas audit.
Penelitian ini menggunakan metode survey dengan menyebarkan kuisioner kepada responden potensial agar diperoleh data valid dan hasil yang signifikan. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling, semua sampel yang berkaitan dengan objek penelitian untuk dijadikan sampel. Sampelnya adalah auditor senior dan/atau yang memiliki masa kerja minimal dua tahun (auditor KAP yang ada di Jakarta, Yogyakarta, Solo, dan Surabaya yang ada di buku directory Ikatan Akuntan Indonesia). Pengumpulan data dilakukan melalui jasa pos dengan menyebar kuisioner pada responden potensial. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh tekanan anggaran waktu terhadap perilaku mengurangi kualitas audit, yang dimoderasi oleh self-efficacy dan kompleksitas tugas.
Data yang terkumpul dilakukan analisis dengan metode regresi berganda. Responden yang digunakan dalam analisa sebanyak 117 responden. Hasil penelitian ini secara empiris menujukkan bahwa interaksi antara tekanan anggaran waktu dengan self-efficacy dapat mempengaruhi perilaku mengurangi kualitas audit. Hal ini berarti secara empiris self-efficacy yang dimiliki oleh auditor dapat berperan sebagai variabel pemoderasi dalam hubungan antara tekanan anggaran waktu dan perilaku penurunan kualitas audit. Demikian juga dalam pengujian hipotesis dua hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yaitu instrumen yang digunakan mengacu pada pengukuran diri sendiri dalam pengukuran variabel-variabel memungkinkan kecenderungan para responden dalam menjawab kuisioner lebih tinggi dari sebenarnya, tidak adanya identifikasi variabel team-efficacy sebagai variabel pemoderasi, sedangkan pekerjaan audit tidak dilakukan secara individu, umumnya dilakukan satu tim. Dalam penelitian selanjutnya hendaknya lebih berhati-hati dalam memilih responden.
Peran auditor sebagai pihak yang independen sangat dibutuhkan dalam dunia bisnis mengingat semakin meningkatnya kebutuhan jasa audit seiring dengan perkembangan pasar modal dan pertumbuhan bisnis. Auditor harus mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diberikan secara profesional dengan memberikan hasil audit yang tepat waktu dan berkualitas. Berbagai penelitian seputar identifikasi adanya tipe-tipe perilaku disfungsional auditor, menganggap perilaku tersebut sangat berhubungan dengan anggaran waktu, dan menganggap perilaku tersebut sangat berhubungan dengan anggaran waktu dan sistem pengendalian secara keseluruhan (Otley et al. 1996). Penelitian yang menunjukkan bahwa perilaku disfungsional auditor diukur berdasarkan anggaran yang ketat pada tingkat yang berbeda (Kelley dan Margheim 1990).
Penyebab tekanan anggaran waktu adalah adanya persaingan antar kantor akuntan publik (KAP), yang menyebabkan pula penurunan fee yang berakibat pemendekan anggaran waktu guna menyeimbangkan biaya pengendalian dan keefektifan tugas audit. Tekanan anggaran waktu dapat membahayakan kualitas audit. Persaingan antar KAP juga menimbulkan dilema inherent cost dengan standar kualitas audit. Hambatan yang dihadapi KAP adalah standar profesional dan kewajiban mengarahkan auditor pada level kualitas yang tinggi, kos yang berdampak pada penurunan kualitas audit. Manfaat anggaran waktu adalah membantu KAP dalam perencanaan, pengalokasian personil, evaluasi audit, penetapan fee, dan pengefisienan kerja dari tiap tahapan audit.
Penelitian Kelley dan Seiler (1992) menunjukkan kriteria penting untuk memperoleh peringkat yang baik adalah pencapaian anggaran waktu. Penelitian Braun (2000) mengatakan bahwa pengaruh negatif dari munculnya perilaku yang mengancam kualitas audit adalah menurunnya tingkat pendeteksian dan penyelidikan aspek kualitatif salah saji, sedangkan menurut Kelley dan Margheim (1992), pengaruh negative itu adalah gagal meneliti prinsip akuntansi dan me-review dokumen secara dangkal, menerima penjelasan klien yang lemah dan mengurangi pekerjaan pada salah satu langkah audit di bawah tingkat yang diterima.
REVIEW LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Tekanan Anggaran Waktu Otely, et al. (1996) mengatakan bahwa peningkatan persaingan diantara KAP telah meningkatkan tekanan agar mengurangi besarnya fee audit. Alderman dan Deitrick (1982) mengatakan penetapan anggaran waktu sangat membantu KAP dalam perencanaan, pengalokasian personil, pengevaluasian audit, penentuan fee, dan pengefisienan kinerja dari tiap tahapan audit. Solomon dan Brown (1992) mengatakan literatur audit membedakan antara time budget pressure dan time deadline pressure dimana tekanan anggaran waktu muncul karena kebutuhan untuk menyelesaikan tugas audit berdasarkan waktu tertentu, dan karena jumlah waktu dialokasikan manajemen KAP untuk menyesuaikan tugas audit.
Perilaku Penurunan Kualitas Audit
Riyadeni (2003) mengatakan bahwa kualitas pekerjaan auditor berhubungan dengan kualifikasi keahlian, ketepatan waktu penyelesaian pekerjaan dengan kualifikasi keahlian, ketepatan waktu penyelesaian pekerjaan, kecukupan bukti pemeriksaan yang digunakan untuk mendukung pendapat auditor dan sikap independensinya terhadap klien. Khomsiyah dan Indriantoro (1998) mebunjukkan bahwa auditor harus mempertahankan integritas dan objektivitas dalam melaksanakan tugas, bertindak jujut dan tegas, tanpa pretensi, bertindak adil tanpa dipengaruhi tekanan atau pihak tertentu.
Hubungan Tekanan Anggaran Waktu dan Penurunan Kualitas Audit
Otley et al. (1996) mengatakan bahwa peningkatan persaingan yang ketat dalam jasa audit berdampak pada penurunan anggaran waktu yang diikuti peningkatan tekanan untuk mengurangi besar fee audit yang berakibat menurunnya kualitas audit. Kelley dan Margheim (1992) menemukan bahwa tekanan fee memberikan insentif bagi para auditor untuk menekankan pada pengendalian biaya yang dihasilkan dalam bentuk anggaran waktu yang berkurang dan kualitas audit yang lebih rendah. Dezoort (2002) membedakan tekanan anggaran waktu menjadi dua yaitu time deadline pressure dan time budget pressure.
Hubungan Tekanan Anggaran Waktu dan Self Time Efficacy dengan Perilaku Penurunan Kualitas Audit
Kreiler dan Kinicki (2001) mengatakan bahwa self-efficacy muncul secara lambat laun melalui pengamalan kemampuan-kemampuan kognitif, sosial, bahaya, dan atau fisik yang rumit. Bandura (1988) mengatakan self-efficacy bersumber dariteori belajar sosial yang menekankan hubungan kausal timbal balik antara faktor lingkungan, perilaku, dan faktor personal yang saling berkaitan. Bandura san Achunk (1999) menemukan adanya hubungan yang signifikan antara persepsi individu mengenai efikasi dirinya dengan persepsi dalam berbagai performasi individu tersebut. Prost dan Koesler (1998) mengatakan bahwa teori self-efficacy menyediakan kerangka konseptual untuk digunakan pada studi keperilakuan untuk memahami perilaku dan untuk menjelaskan keberhasilan individu atau kelompok dalam pencapaian tujuan. Coram et al. (2004) menjelaskan bahwa stress dalam pekerjaan membawa pengaruh pada psikis, fisik, dan perubahan perilaku negatif pada individu dan karyawan. Hipotesis pertama adalah "interaksi antara tekanan anggaran waktu dengan self-efficacy akan mempengaruhi perilaku penurunan kualitas audit."
Hubungan Tekanan Anggaran Waktu dan Kompleksitas Tugas dengan Perilaku Penurunan Kualitas Audit
Cheng et al. (2001) menunjukkan jika tugas lebih kompleks, outcomes akan semakin jauh dari yang diharapkan. Boner (1994) membedakan kompleksitas tugas ke dalam high complexity dan low complexity. Ada tiga alasan kompleksitas tugas perlu diperiksa dalam situasi audit. Ton et al. (t002) dan Boner (1994) menunjukkan bahwa kinerja secara umum menurun jika kompleksitas tugas meningkat. Hipotesis kedua adalah "interaksi antara tekanan anggaran waktu dengan kompleksitas tugas akan mempengaruhi perilaku penurunan kualitas audit.
Penelitian ini menggunakan metode survey dengan menyebarkan kuisioner kepada responden potensial agar diperoleh data valid dan hasil yang signifikan. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling, semua sampel yang berkaitan dengan objek penelitian untuk dijadikan sampel. Sampelnya adalah auditor senior dan/atau yang memiliki masa kerja minimal dua tahun (auditor KAP yang ada di Jakarta, Yogyakarta, Solo, dan Surabaya yang ada di buku directory Ikatan Akuntan Indonesia). Pengumpulan data dilakukan melalui jasa pos dengan menyebar kuisioner pada responden potensial. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh tekanan anggaran waktu terhadap perilaku mengurangi kualitas audit, yang dimoderasi oleh self-efficacy dan kompleksitas tugas.
Data yang terkumpul dilakukan analisis dengan metode regresi berganda. Responden yang digunakan dalam analisa sebanyak 117 responden. Hasil penelitian ini secara empiris menujukkan bahwa interaksi antara tekanan anggaran waktu dengan self-efficacy dapat mempengaruhi perilaku mengurangi kualitas audit. Hal ini berarti secara empiris self-efficacy yang dimiliki oleh auditor dapat berperan sebagai variabel pemoderasi dalam hubungan antara tekanan anggaran waktu dan perilaku penurunan kualitas audit. Demikian juga dalam pengujian hipotesis dua hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yaitu instrumen yang digunakan mengacu pada pengukuran diri sendiri dalam pengukuran variabel-variabel memungkinkan kecenderungan para responden dalam menjawab kuisioner lebih tinggi dari sebenarnya, tidak adanya identifikasi variabel team-efficacy sebagai variabel pemoderasi, sedangkan pekerjaan audit tidak dilakukan secara individu, umumnya dilakukan satu tim. Dalam penelitian selanjutnya hendaknya lebih berhati-hati dalam memilih responden.
Oktober 28, 2009
PENGARUH PARTISIPASI MASYARAKAT DAN TRANSPARANSI KEBIJAKAN PUBLIK TERHADAP HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DEWAN TENTANG ANGGARAN DENGAN PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH (APBD) (Studi Empiris di Propinsi Papua) @PENDAHULUAN Penelitian mengenai hubungan antara kualitas anggota Dewan dengan kinerjanya diantaranya dilakukan oleh: @1. Indradi 2001 ; Sutarnoto 2002, dan Sopanah (2003) @LANDASAN TEORI Berbagai pengertian mengenai persepsi diperoleh melalui Kamus Bahasa Indonesia (1995), Siegel dan Marconi (1989), Gordon
(1991), Matlin (1998) dalam Hilmah (2002), dan Robins (1987). Pengertian mengenai Keuangan Negara dan Keuangan Daerah diperoleh dari Pasal 1 Undang-Undang No.17 Tahun 2004 Tentang Keuangan Negara, dan dalam Undang-Undang Keuangan Negara Pasal 1 ayat (8). Mengenai pengertian Pengawasan Keuangan Daerah, diperoleh dari Keputusan Presidem Nomor 74 Tahun 2001 tentang Tata Cara Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Pasal 1 ayat (6)
Oktober 21, 2009
Presentasi Artikel Metodologi Penelitian
Ntar malem kelompok gw (gw, Ike, ama Mike) presentasi artikel di kelasnya Pak Doddy. Kita kebagian artikel pas bahasa inggris (dies). Moga-moga sukses.
iKainheRe
:::: tHe fRienDLy kinDLy cHeeRy giRL ::::
:::: tHe fRienDLy kinDLy cHeeRy giRL ::::
Label:
Metodologi Penelitian,
Momments
Oktober 08, 2009
I am doing my 'proposal skripsi'
Gila, udda jam setengah 5 pagi nih, adzan Shubuh, gw gga tidur semaleman, ngerjain proposal skripsi tugas mata kuliah Metopen buat presentasi ntar sore.
iKainheRe
:::: tHe fRienDLy kinDLy cHeeRy giRL ::::
:::: tHe fRienDLy kinDLy cHeeRy giRL ::::
Label:
Feels,
Metodologi Penelitian,
Momments
Oktober 04, 2009
Tugas Metodologi Penelitian Bab 4.
Disuruh buat Board Problem Area, Preliminary Investigation, sama Problem Definition.
Aneh-aneh ajja Pak.. Pak.. (dies)
iKainheRe
:::: tHe fRienDLy kinDLy cHeeRy giRL ::::
Aneh-aneh ajja Pak.. Pak.. (dies)
:::: tHe fRienDLy kinDLy cHeeRy giRL ::::
September 26, 2009
Pengaruh Pengungkapan Sukarela Melalui Website Terhadap Nilai Perusahaan Pada Perusahaan Yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta
Ringkasan
Penelitian yang dilakukan oleh Wahid Afiffurahman dan Dody Hapsoro ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengungkapan sukarela melalui web site terhadap nilai perusahaan, membandingkan pengaruh pengungkapan sukarela melalui web site dan pengungkapan sukarela yang tidak melalui web site terhadap nilai perusahaan, membandingkan nilai perusahaan yang mengungkapkan informasi sukarela melalui web site dengan perusahaan yang tidak mengungkapkan informasi sukarela melalui web site. Diharapkan penelitian ini bermanfaat bagi para investor, manajer perusahaan, badan pengawas pasar modal, dan akademisi lain. Penelitian terdahulu telah dilakukan oleh Sutanto, 1992; Subiyantoro, 1997; Suripto, 1998; Gunawan, 2000; Zubaidah dan Zulfikar, 2005.
Terdapar tiga hipotesis di dalam penelitian ini, hipotesis pertama adalah pengungkapan informasi sukarela melalui web site berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hipotesis kedua adalah pengaruh pengungkapan sularela melalui web site terhadap nilai perusahaan lebih besar daripada pengaruh pengungkapan sukarela yang tidak melalui web site. Hipotesis ketiga adalah nilai perusahaan yang melakukan pengungkapan informasi sukarela melalui web site perusahaan lebih besar daripada perusahaan yang tidak melalui pengungkapan informasi sukarela melalui web site. Penelitian ini mengambil periode satu tahun yaitu tahun 2005. Populasinya adalah perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tahun 2005. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Sampelnya adalah 107 perusahaan. Empat variabel yang digunakan dalam penelitian ini antara lain pengungkapan sukarela, pengungkapan informasi sukarela melalui web site, nilai perusahaan, ukuran perusahaan, likuiditas perusahaan, profitabilitas perusahaan. Empat pengujian asumsi klasik yang harus dipenuhi sebelum menggunakan Model Tobins'Q dengan regresi yaitu Heteroskedastisitas, Normalitas, Autokorelasi, dan Multikolinearitas. Hipotesis pertama dan ketiga diuji berdasarkan besaran Tobins'Q. Hipotesis kedua diuji dengan cara membandingkan nilai koefisien antara variabel VDI dengan variabel WDI.
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel independen memiliki pengaruh dalam menentukan nilai perusahaan. Nilai F test menunjukkan bahwa variabel independen secara simultan mempengaruhi variabel LnTobin. Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa pengungkapan informasi sukarela melalui web site berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Dari nilai profitabilitas dapat ditunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak mempengaruhi nilai perusahaan secara signifikan. Dari nilai t hitung diketahui bahwa likuiditas perusahaan tidak mempengaruhi nilai perusahaan, profitabilitas dan rasio leverage mempengaruhi nilai perusahaan secara signifikan, variabel independen (LnWDI, LnA, LnCUR, LnROE, dan LnDER) memiliki pengaruh dalam menentukan nilai perusahaan. Semakin luas pengungkapan sukarela melalui web site perusahaan maka nilai perusahaan akan semakin tinggi, pengungkapan sukarela tidak mempengaruhi nilai perusahaan secara signifikan, ukuran perusahaan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai perusahaan, variabel LnROE dan variabel LnDER memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai perusahaan. Berdasakan hasil penelitian, dapat dibuktikan hal-hal berikut:
1. Pengungkapan sukarela melalui web site berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan.
2. Pengungkapan sukarela melalui web site berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan, sedangkan pengungkapan sukarela yang tidak melalui web site tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
3. Terdapat perbedaan antara pengaruh pengungkapan sukarela melalui web site terhadap nilai perusahaan dengan pengaruh pengungkapan sukarela yang tidak melalui web site terhadap nilai perusahaan.
4. Nilai perusahaan yang melakukan pengungkapan sukarela melalui web site adalah lebih besar daripada nilai perusahaan yang tidak melakukan pengungkapan sukarela melalui web site.
Keterbatasan yang ada dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadikan penelitian selanjutnya menjadi lebih baik, seperti misalnya penelitian selanjutnya dapat menggunakan sampel yang diperluas dengan menambah jumlah periode yang dijadikan sebagai sampel penelitian (menggunakan data time series), penelitian selanjutnya hendaknya menggunakan pengukuran luas pengungkapan sukarela berdasarkan kualitas masing-masing item informasi, melakukan perluasan dalam item pengungkapan yang telah disesuaikan hingga diperoleh hasil penelitian yang lebih baik.
Penelitian yang dilakukan oleh Wahid Afiffurahman dan Dody Hapsoro ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengungkapan sukarela melalui web site terhadap nilai perusahaan, membandingkan pengaruh pengungkapan sukarela melalui web site dan pengungkapan sukarela yang tidak melalui web site terhadap nilai perusahaan, membandingkan nilai perusahaan yang mengungkapkan informasi sukarela melalui web site dengan perusahaan yang tidak mengungkapkan informasi sukarela melalui web site. Diharapkan penelitian ini bermanfaat bagi para investor, manajer perusahaan, badan pengawas pasar modal, dan akademisi lain. Penelitian terdahulu telah dilakukan oleh Sutanto, 1992; Subiyantoro, 1997; Suripto, 1998; Gunawan, 2000; Zubaidah dan Zulfikar, 2005.
Terdapar tiga hipotesis di dalam penelitian ini, hipotesis pertama adalah pengungkapan informasi sukarela melalui web site berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hipotesis kedua adalah pengaruh pengungkapan sularela melalui web site terhadap nilai perusahaan lebih besar daripada pengaruh pengungkapan sukarela yang tidak melalui web site. Hipotesis ketiga adalah nilai perusahaan yang melakukan pengungkapan informasi sukarela melalui web site perusahaan lebih besar daripada perusahaan yang tidak melalui pengungkapan informasi sukarela melalui web site. Penelitian ini mengambil periode satu tahun yaitu tahun 2005. Populasinya adalah perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tahun 2005. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Sampelnya adalah 107 perusahaan. Empat variabel yang digunakan dalam penelitian ini antara lain pengungkapan sukarela, pengungkapan informasi sukarela melalui web site, nilai perusahaan, ukuran perusahaan, likuiditas perusahaan, profitabilitas perusahaan. Empat pengujian asumsi klasik yang harus dipenuhi sebelum menggunakan Model Tobins'Q dengan regresi yaitu Heteroskedastisitas, Normalitas, Autokorelasi, dan Multikolinearitas. Hipotesis pertama dan ketiga diuji berdasarkan besaran Tobins'Q. Hipotesis kedua diuji dengan cara membandingkan nilai koefisien antara variabel VDI dengan variabel WDI.
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel independen memiliki pengaruh dalam menentukan nilai perusahaan. Nilai F test menunjukkan bahwa variabel independen secara simultan mempengaruhi variabel LnTobin. Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa pengungkapan informasi sukarela melalui web site berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Dari nilai profitabilitas dapat ditunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak mempengaruhi nilai perusahaan secara signifikan. Dari nilai t hitung diketahui bahwa likuiditas perusahaan tidak mempengaruhi nilai perusahaan, profitabilitas dan rasio leverage mempengaruhi nilai perusahaan secara signifikan, variabel independen (LnWDI, LnA, LnCUR, LnROE, dan LnDER) memiliki pengaruh dalam menentukan nilai perusahaan. Semakin luas pengungkapan sukarela melalui web site perusahaan maka nilai perusahaan akan semakin tinggi, pengungkapan sukarela tidak mempengaruhi nilai perusahaan secara signifikan, ukuran perusahaan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai perusahaan, variabel LnROE dan variabel LnDER memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai perusahaan. Berdasakan hasil penelitian, dapat dibuktikan hal-hal berikut:
1. Pengungkapan sukarela melalui web site berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan.
2. Pengungkapan sukarela melalui web site berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan, sedangkan pengungkapan sukarela yang tidak melalui web site tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
3. Terdapat perbedaan antara pengaruh pengungkapan sukarela melalui web site terhadap nilai perusahaan dengan pengaruh pengungkapan sukarela yang tidak melalui web site terhadap nilai perusahaan.
4. Nilai perusahaan yang melakukan pengungkapan sukarela melalui web site adalah lebih besar daripada nilai perusahaan yang tidak melakukan pengungkapan sukarela melalui web site.
Keterbatasan yang ada dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadikan penelitian selanjutnya menjadi lebih baik, seperti misalnya penelitian selanjutnya dapat menggunakan sampel yang diperluas dengan menambah jumlah periode yang dijadikan sebagai sampel penelitian (menggunakan data time series), penelitian selanjutnya hendaknya menggunakan pengukuran luas pengungkapan sukarela berdasarkan kualitas masing-masing item informasi, melakukan perluasan dalam item pengungkapan yang telah disesuaikan hingga diperoleh hasil penelitian yang lebih baik.
Label:
Metodologi Penelitian
September 25, 2009
Proses Penelitian, Langkah 1 sampai 3
Proses Penelitian untuk Penelitian Terapan dan Dasar
Dua aspek dalam penyelidikan ilmiah dalam metode hipotesis-deduktif, adalah:
1. Proses menyusun kerangka konseptual dan hipotesis untuk pengujian.
2. Desain yang meliputi perencanaan studi aktual, berurutan dengan aspek tertentu seperti lokasi studi, pemilihan sampel, serta pengumpulan dan analisis data.
Bidang Masalah yang Luas
Bidang masalah yang luas dapat dipersempit seiring dengan persoalan yang spesifik yang diinvestigasi setelah sejumlah data pendahuluan dikumpulkan oleh peneliti melalui wawancara dan penelitian literatur. Bidang masalah yang luas mencakup:
1. Seluruh situasi dimana seseorang melihat sebuah kemungkinan dalam konteks organisasi yang perlu diselesaikan.
2. Bidang yang harus ditingkatkan dalam organisasi.
3. Persoalan konseptual atau teoretis yang perlu dipersempit bagi peneliti dasar untuk memahami fenomena tertentu.
4. Beberapa pertanyaan penelitian yang seorang peneliti dasar ingin jawab secara empiris.
Pengumpulan Data Awal
Klasifikasi sifat informasi yang diperlukan peneliti untuk mendefinisikan masalah, menyusun teori, dan menguraikan variabel-variabel yang mungkin berpengaruh, antara lain:
1. Informasi latar belakang organisasi
Informasi mengenai Asal-usul dan sejarah perusahaan, Ukuran dalam hal karyawan, aset, atau keduanya, Piagam, Lokasi, Sumber daya, Hubungan saling ketergantungan dengan institusi lain dan lingkungan eksternal, Posisi keuangan selama 5 sampai 10 tahun terakhir, dan data keuangan yang relevan, dapat diperoleh melalui publikasi dokumen yang tersedia, situs web resmi perusahaan, arsip perusahaan, dan sumber lain.
2. Filosofi manajemen, kebijakan perusahaan, dan aspek struktural lainnya.
Informasi mengenai kebijakan, struktur, arus kerja, filosofi manajemen, dapat diperoleh dengan mengajukan pertanyaan langsung ke manajemen. Beberapa faktor struktural yang juga mempengaruhi persoalan dan perlu untuk diselidiki yaitu Peran dan posisi organisasi dan jumlah karyawan pada setiap level pekerjaan, Tingkat spesialisasi, Saluran komunikasi, Sistem kendali, Koordinasi dan Rentang kendali, Sistem penghargaan, Sistem arus kerja, dan sejenisnya. Bila persepsi responden mengenai variabel-variabel struktural tidak sama dengan kebijakan dan prosedur struktural resmi organisasi maka relevan untuk melakukan wawancara lebih lanjut dengan berbagai level karyawan dalam organisasi.
3. Persepsi, sikap, dan respin perilaku
Informasinya dapat diperoleh melalui:
a. Kuesioner, untuk informasi mengenai persepsi karyawan terhadap pekerjaan, lingkungan kerja, sikap, dan respon-respon perilaku.
b. Responden, untuk gagasan umum tentang persepsi orang mengenai pekerjaan, iklim organisasi, dan aspek minat peneliti lainnya.
Faktor sikap mencakup keyakinan orang mengenai reaksi terhadap sikap-sikap pekerjaan, saling ketergantungan arus kerja, superprioritas dalam organisasi, partisipasi dalam pengambilan keputusan, sistem klien, rekan kerja, penghargaan yang diberikan, terkait tanggungjawab karyawan terhadap keluarga, keterlibatan perusahaan dengan masyarakat, kepentingan umum, dan kelompok sosial lainnya, toleransi perusahaan untuk karyawan yang cuti kerja. Faktor perilaku mencakup kebiasaan kerja aktual seperti ketekunan, tingkat absensi, kinerja, dan sebagainya.
Survei Literatur
Alasan survei literatur
Survei literatur adalah dokumentasi dari tinjauan menyeluruh terhadap karya publikasi dan nonpublikasi dari sumber sekunder dalam bidang minat khusus bagi peneliti, dilakukan melalui perpustakaan dan basis data komputerisasi. Tujuan survei literatur adalah untuk memastikan bahwa tidak ada variabel penting di masa lalu yang ditemukan berulang kali mempunyai pengaruh atas masalah yang terlewatkan. Manfaat survei literatur adalah untuk penelitian kualitatif, mendorong peneliti untuk menyertakan semua variabel yang relevan ke dalam proyek penelitian, memfasilitasi penggabungan kreatif dari informasi yang diperoleh daru wawancara dengan penemuan dalam penelitian terdahulu, menjadi kerangka dasar yang baik untuk diproses lebih lanjut dengan investigasi.
Mengadakan survei literatur
Langkahnya adalah:
a. Mengidentifikasi sumber yang relevan
Tiga basis data yang dapat digunakan saat meninjau literatur adalah Basis data bibliografi, Basis data abstrak, dan Basis data teks lengkap.
b. Menyarikan informasi yang relevan
Melalui pencarian bahan yang diperlukan di perpustakaan, pencarian akses ke sumber online.
Menulis Survei Literatur atau Tinjauan Literatur
Tinjauan literatur atau survei literatur adalah dokumentasi penelitian yang relevan dalam bidang investigasi dengan jelas dan logis. Tujuan survei literatur adalah untuk mengidentifikasi dan menyoroti variabel-variabel penting dan ubtuk mendokumentasikan ramuan penting dari penelitian sebelumnya sebagai dasar kerangka teoretis dan hipotesis investigasi saat ini. Survei literatur hendaknya menampilkan semua informasi yang relevan dengan cara yang logis dan meyakinkan, tidak menampilkan semua penelitian dalam urutan kronologis dengan potongan informasi yang tidak beraturan.
Metode yang diterima untuk menyebutkan refernsi dalam bagian survei literatur dan bagian kutipan yaitu:
1. Publikasi manal dari American Psychological Association (2001) menawarkan informasi rinci mengenai kutipan, petikan, referensi, dan lain-lain.
2. The Chicago Manyal of Style (1993)
3. Manual for Writers (1996) oleh Turabian
Definisi Masalah
Peneliti harus mempersempit masalah dan mendefinisikan persoalan dengan lebih jelas setelah tahap wawancara dan tinjauan literatur. Definisi masalah bisa meliputi masalah yang ada dalam keadaan saat ini, sekaligus penyelidikan ubtuk kondisi ideal dalam organisasi.
Definisi masalah atau pernyataan masalah adalah pernyataan dari pertanyaan yang jelas, tepat, dan ringkas atau persoalan yang diinvestigasi untuk menemukan jawaban, atau solusi.
Implikasi Manajerial
Definisi masalah yang tepat adalah penting untuk solusi masalah, manajer tidak akan enggan untuk menghabiskan waktu untuk bekerja secara dekat dengan peneliti, manajer dapat mengetahui bagaimana bisnis serupa di dunia bergulat dengan situasi yang mirip dan memperoleh penahaman yang lebih baik untuk menangani persoalan yang dihadapi.
Isu Etis Dalam Tahap Investigasi Awal
Setelah semua maslah dirasakan dan investigasi diputuskan, maka selanjutnya adalah memberitahu semua pihak yang akan diwawancarai untuk pengumpulan data awal melalui wawancara mengenai penelitian yang akan dilakukan. Usaha untuk mendapatkan informasi melalui cara-cara tipuan apapun alasannya sebaiknya dihindari sehingga tidak ada ketidakpercayaan dan kegelisahaan dalam organisasi
Dua aspek dalam penyelidikan ilmiah dalam metode hipotesis-deduktif, adalah:
1. Proses menyusun kerangka konseptual dan hipotesis untuk pengujian.
2. Desain yang meliputi perencanaan studi aktual, berurutan dengan aspek tertentu seperti lokasi studi, pemilihan sampel, serta pengumpulan dan analisis data.
Bidang Masalah yang Luas
Bidang masalah yang luas dapat dipersempit seiring dengan persoalan yang spesifik yang diinvestigasi setelah sejumlah data pendahuluan dikumpulkan oleh peneliti melalui wawancara dan penelitian literatur. Bidang masalah yang luas mencakup:
1. Seluruh situasi dimana seseorang melihat sebuah kemungkinan dalam konteks organisasi yang perlu diselesaikan.
2. Bidang yang harus ditingkatkan dalam organisasi.
3. Persoalan konseptual atau teoretis yang perlu dipersempit bagi peneliti dasar untuk memahami fenomena tertentu.
4. Beberapa pertanyaan penelitian yang seorang peneliti dasar ingin jawab secara empiris.
Pengumpulan Data Awal
Klasifikasi sifat informasi yang diperlukan peneliti untuk mendefinisikan masalah, menyusun teori, dan menguraikan variabel-variabel yang mungkin berpengaruh, antara lain:
1. Informasi latar belakang organisasi
Informasi mengenai Asal-usul dan sejarah perusahaan, Ukuran dalam hal karyawan, aset, atau keduanya, Piagam, Lokasi, Sumber daya, Hubungan saling ketergantungan dengan institusi lain dan lingkungan eksternal, Posisi keuangan selama 5 sampai 10 tahun terakhir, dan data keuangan yang relevan, dapat diperoleh melalui publikasi dokumen yang tersedia, situs web resmi perusahaan, arsip perusahaan, dan sumber lain.
2. Filosofi manajemen, kebijakan perusahaan, dan aspek struktural lainnya.
Informasi mengenai kebijakan, struktur, arus kerja, filosofi manajemen, dapat diperoleh dengan mengajukan pertanyaan langsung ke manajemen. Beberapa faktor struktural yang juga mempengaruhi persoalan dan perlu untuk diselidiki yaitu Peran dan posisi organisasi dan jumlah karyawan pada setiap level pekerjaan, Tingkat spesialisasi, Saluran komunikasi, Sistem kendali, Koordinasi dan Rentang kendali, Sistem penghargaan, Sistem arus kerja, dan sejenisnya. Bila persepsi responden mengenai variabel-variabel struktural tidak sama dengan kebijakan dan prosedur struktural resmi organisasi maka relevan untuk melakukan wawancara lebih lanjut dengan berbagai level karyawan dalam organisasi.
3. Persepsi, sikap, dan respin perilaku
Informasinya dapat diperoleh melalui:
a. Kuesioner, untuk informasi mengenai persepsi karyawan terhadap pekerjaan, lingkungan kerja, sikap, dan respon-respon perilaku.
b. Responden, untuk gagasan umum tentang persepsi orang mengenai pekerjaan, iklim organisasi, dan aspek minat peneliti lainnya.
Faktor sikap mencakup keyakinan orang mengenai reaksi terhadap sikap-sikap pekerjaan, saling ketergantungan arus kerja, superprioritas dalam organisasi, partisipasi dalam pengambilan keputusan, sistem klien, rekan kerja, penghargaan yang diberikan, terkait tanggungjawab karyawan terhadap keluarga, keterlibatan perusahaan dengan masyarakat, kepentingan umum, dan kelompok sosial lainnya, toleransi perusahaan untuk karyawan yang cuti kerja. Faktor perilaku mencakup kebiasaan kerja aktual seperti ketekunan, tingkat absensi, kinerja, dan sebagainya.
Survei Literatur
Alasan survei literatur
Survei literatur adalah dokumentasi dari tinjauan menyeluruh terhadap karya publikasi dan nonpublikasi dari sumber sekunder dalam bidang minat khusus bagi peneliti, dilakukan melalui perpustakaan dan basis data komputerisasi. Tujuan survei literatur adalah untuk memastikan bahwa tidak ada variabel penting di masa lalu yang ditemukan berulang kali mempunyai pengaruh atas masalah yang terlewatkan. Manfaat survei literatur adalah untuk penelitian kualitatif, mendorong peneliti untuk menyertakan semua variabel yang relevan ke dalam proyek penelitian, memfasilitasi penggabungan kreatif dari informasi yang diperoleh daru wawancara dengan penemuan dalam penelitian terdahulu, menjadi kerangka dasar yang baik untuk diproses lebih lanjut dengan investigasi.
Mengadakan survei literatur
Langkahnya adalah:
a. Mengidentifikasi sumber yang relevan
Tiga basis data yang dapat digunakan saat meninjau literatur adalah Basis data bibliografi, Basis data abstrak, dan Basis data teks lengkap.
b. Menyarikan informasi yang relevan
Melalui pencarian bahan yang diperlukan di perpustakaan, pencarian akses ke sumber online.
Menulis Survei Literatur atau Tinjauan Literatur
Tinjauan literatur atau survei literatur adalah dokumentasi penelitian yang relevan dalam bidang investigasi dengan jelas dan logis. Tujuan survei literatur adalah untuk mengidentifikasi dan menyoroti variabel-variabel penting dan ubtuk mendokumentasikan ramuan penting dari penelitian sebelumnya sebagai dasar kerangka teoretis dan hipotesis investigasi saat ini. Survei literatur hendaknya menampilkan semua informasi yang relevan dengan cara yang logis dan meyakinkan, tidak menampilkan semua penelitian dalam urutan kronologis dengan potongan informasi yang tidak beraturan.
Metode yang diterima untuk menyebutkan refernsi dalam bagian survei literatur dan bagian kutipan yaitu:
1. Publikasi manal dari American Psychological Association (2001) menawarkan informasi rinci mengenai kutipan, petikan, referensi, dan lain-lain.
2. The Chicago Manyal of Style (1993)
3. Manual for Writers (1996) oleh Turabian
Definisi Masalah
Peneliti harus mempersempit masalah dan mendefinisikan persoalan dengan lebih jelas setelah tahap wawancara dan tinjauan literatur. Definisi masalah bisa meliputi masalah yang ada dalam keadaan saat ini, sekaligus penyelidikan ubtuk kondisi ideal dalam organisasi.
Definisi masalah atau pernyataan masalah adalah pernyataan dari pertanyaan yang jelas, tepat, dan ringkas atau persoalan yang diinvestigasi untuk menemukan jawaban, atau solusi.
Implikasi Manajerial
Definisi masalah yang tepat adalah penting untuk solusi masalah, manajer tidak akan enggan untuk menghabiskan waktu untuk bekerja secara dekat dengan peneliti, manajer dapat mengetahui bagaimana bisnis serupa di dunia bergulat dengan situasi yang mirip dan memperoleh penahaman yang lebih baik untuk menangani persoalan yang dihadapi.
Isu Etis Dalam Tahap Investigasi Awal
Setelah semua maslah dirasakan dan investigasi diputuskan, maka selanjutnya adalah memberitahu semua pihak yang akan diwawancarai untuk pengumpulan data awal melalui wawancara mengenai penelitian yang akan dilakukan. Usaha untuk mendapatkan informasi melalui cara-cara tipuan apapun alasannya sebaiknya dihindari sehingga tidak ada ketidakpercayaan dan kegelisahaan dalam organisasi
Label:
Metodologi Penelitian
September 15, 2009
Resume Artikel Komponen Sistem Pengendalian Manajemen (Quality Goal, Quality Feedback, dan Quality Incentive) terhadap Kinerja Qualitas dan Konsekuensi terhadap Kinerja Keuangan Oleh Salman Jumaili.
Judul artikel: Komponen Sistem Pengendalian Manajemen (Quality Goal, Quality Feedback, dan Quality Incentive) terhadap Kinerja Qualitas dan Konsekuensi terhadap Kinerja Keuangan, Oleh Salman Jumaili.
REVIEW ARTIKEL
Penelitian yang dilakukan oleh Salman Jumaili ini dilatar belakangi oleh adanya tantangan dan peluang bisnis yang muncul akibat semakin tajamnya tingkat persaingan, perubahan selera konsumen, kemajuan teknologi, serta perubahan sosial ekonomi. Dalam studi digunakan model analisis palur untuk menguji kehadiran quality goal, penetapan quality feedback, dan quality incentive terhadap kinerja kualitas, hubungan antara kinerja kualitas terhadap kepuasan pelanggan, hubungan antara kinerja kualitas terhadap kinerja keuangan, dan hubungan antara kepuasan pelanggan terhadap kinerja keuangan.
Metode survei digunakan untuk mengumpulkan data cross-section. Populasinya adalah manajer operasional atau produksi, manajer pemadaran, dan manajer quality control pada perusahaan manufaktur yang berlokasi di Indonesia. Sampelnya berasal dari perusahaan manufaktur yang telah menerima ISO 9000, datanya diambil dari software direktori business to business 2004-2005. Ada enam hipotesis yang diajukan yaitu peningkatan komunikasi mengenai quality goal yang didasarkan pada produk sisa, pekerjaan ulang, dan defect untuk pekerja pabrik akan berhubungan secara positif dengan kinerja kualitas, frekuensi dari quality feedback akan berhubungan secara positif dengan kinerja kualitas, suatu peningkatan dalam incentive secara positif berhubungan dengan kinerja kualitas, kinerja kualitas berhubungan secara positif dengan kepuasan pelanggan, kinerja kualitas berhubungan positif dengan kinerja keuangan, kepuasan pelanggan akan berhubungan secara positif dengan kinerja keuangan. Kuisioner disebarkan melalui internet (email). Respon keenam variabel diukur dengan menggunakan skala likert masing-masing tujuh poin.
Uji Kaiser-Meyer-Olkin menunjukkan bahwa seluruh item memiliki faktor loading lebih dari 0,4. Uji reliabilitasnya digunakan koefisien cronbach alpha dengan batasan minimal 0,60, hasil studi menunjukkan bahwa data yang diperoleh dalam penelitian ini dapat diandalkan karena memiliki cronbach alpha di atas 0,60. Uji multikolinearitas menunjukkan antar variabel independen memiliki korelasi dibawah 0,90, studi ini menegaskan tidak ada multikolinearitas yang serius karena hasil menunjukkan nilai tolerance semua variabel lebih besar dari 0,1 dan nilai VIF kurang dari 10. Uji autokorelasi menunjukkan nilai Durbin-Wanson sebesar 2,23 yang lebih besar dari batas atas dan kurang dari 4-1,76 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada autokorelasi pisitif atau negatif dan disimpulkan tidak ada autokorelasi. Pengujian hipotesis yang menggunakan path analysis melalui SPSS versi 12.0 ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan komunikasi mengenai quality goal yang didasarkan pada produk sisa, pekerjaan ulang, dan detect untuk pekerja pabrik berhubungan secara positif dengan kinerja kualitad namun tidak signifikan, peningkatan dalam quality incentive akan berhubungan secara posituf dengan penibgkatan kinerja kualitas, kinerja kualitas berhubungan secara positif dengan kepuasan pelanggan, kepuasan pelanggan dan kinerja keuangan hasilnya masih mixed.
Penemuan studi ini berhasil mendukung hipotesis dua, tiga, empat, dan enam namun tidak berhasil mendukung hipotesis satu dan lima. Studi ini dapat meningkatkan kinerja keuangan, manajer produksi dan pemasaran harus mempertimbangkan quality goal, quality feedback, dan quality incentive terhadap produk sisa, pekerjaan ulang, dan defect yang secara positif akan meningkatkan kinerja kualitas dari produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Studi ini memiliki keterbatasan hanya menggunakan tiga karakteristik sistem pengendalian manajemen untuk mengukur kualitas, adanya kemungkinan kuisioner diisi oleh bukan responden yang diharapkan karena kuisioner dikirimkan melalui email, adanya kuisioner yang tidak dikembalikan pada peneliti, maka studi selanjutnya diharapkan dapat memperbaiki keterbatasan studi ini dengan memasukkan variabel kinerja kualitas yang lain, atau melakukan survei dengan wawancara langsung terhadap manajer perusahaan.
REVIEW ARTIKEL
Penelitian yang dilakukan oleh Salman Jumaili ini dilatar belakangi oleh adanya tantangan dan peluang bisnis yang muncul akibat semakin tajamnya tingkat persaingan, perubahan selera konsumen, kemajuan teknologi, serta perubahan sosial ekonomi. Dalam studi digunakan model analisis palur untuk menguji kehadiran quality goal, penetapan quality feedback, dan quality incentive terhadap kinerja kualitas, hubungan antara kinerja kualitas terhadap kepuasan pelanggan, hubungan antara kinerja kualitas terhadap kinerja keuangan, dan hubungan antara kepuasan pelanggan terhadap kinerja keuangan.
Metode survei digunakan untuk mengumpulkan data cross-section. Populasinya adalah manajer operasional atau produksi, manajer pemadaran, dan manajer quality control pada perusahaan manufaktur yang berlokasi di Indonesia. Sampelnya berasal dari perusahaan manufaktur yang telah menerima ISO 9000, datanya diambil dari software direktori business to business 2004-2005. Ada enam hipotesis yang diajukan yaitu peningkatan komunikasi mengenai quality goal yang didasarkan pada produk sisa, pekerjaan ulang, dan defect untuk pekerja pabrik akan berhubungan secara positif dengan kinerja kualitas, frekuensi dari quality feedback akan berhubungan secara positif dengan kinerja kualitas, suatu peningkatan dalam incentive secara positif berhubungan dengan kinerja kualitas, kinerja kualitas berhubungan secara positif dengan kepuasan pelanggan, kinerja kualitas berhubungan positif dengan kinerja keuangan, kepuasan pelanggan akan berhubungan secara positif dengan kinerja keuangan. Kuisioner disebarkan melalui internet (email). Respon keenam variabel diukur dengan menggunakan skala likert masing-masing tujuh poin.
Uji Kaiser-Meyer-Olkin menunjukkan bahwa seluruh item memiliki faktor loading lebih dari 0,4. Uji reliabilitasnya digunakan koefisien cronbach alpha dengan batasan minimal 0,60, hasil studi menunjukkan bahwa data yang diperoleh dalam penelitian ini dapat diandalkan karena memiliki cronbach alpha di atas 0,60. Uji multikolinearitas menunjukkan antar variabel independen memiliki korelasi dibawah 0,90, studi ini menegaskan tidak ada multikolinearitas yang serius karena hasil menunjukkan nilai tolerance semua variabel lebih besar dari 0,1 dan nilai VIF kurang dari 10. Uji autokorelasi menunjukkan nilai Durbin-Wanson sebesar 2,23 yang lebih besar dari batas atas dan kurang dari 4-1,76 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada autokorelasi pisitif atau negatif dan disimpulkan tidak ada autokorelasi. Pengujian hipotesis yang menggunakan path analysis melalui SPSS versi 12.0 ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan komunikasi mengenai quality goal yang didasarkan pada produk sisa, pekerjaan ulang, dan detect untuk pekerja pabrik berhubungan secara positif dengan kinerja kualitad namun tidak signifikan, peningkatan dalam quality incentive akan berhubungan secara posituf dengan penibgkatan kinerja kualitas, kinerja kualitas berhubungan secara positif dengan kepuasan pelanggan, kepuasan pelanggan dan kinerja keuangan hasilnya masih mixed.
Penemuan studi ini berhasil mendukung hipotesis dua, tiga, empat, dan enam namun tidak berhasil mendukung hipotesis satu dan lima. Studi ini dapat meningkatkan kinerja keuangan, manajer produksi dan pemasaran harus mempertimbangkan quality goal, quality feedback, dan quality incentive terhadap produk sisa, pekerjaan ulang, dan defect yang secara positif akan meningkatkan kinerja kualitas dari produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Studi ini memiliki keterbatasan hanya menggunakan tiga karakteristik sistem pengendalian manajemen untuk mengukur kualitas, adanya kemungkinan kuisioner diisi oleh bukan responden yang diharapkan karena kuisioner dikirimkan melalui email, adanya kuisioner yang tidak dikembalikan pada peneliti, maka studi selanjutnya diharapkan dapat memperbaiki keterbatasan studi ini dengan memasukkan variabel kinerja kualitas yang lain, atau melakukan survei dengan wawancara langsung terhadap manajer perusahaan.
Label:
Metodologi Penelitian
September 14, 2009
Investigasi Ilmiah
Kelompok II
Nama/NIM:
Ika Pradipta Harnandika F 1308555
Ike Yuni Romanika F 1308556
Mike Indah SSP F 1308
Resume Materi Bab Investigasi Ilmiah
S1 Akuntansi Swadana Transfer FE UNS
INVESTIGASI ILMIAH
Manajer sering dihadapkan pada persoalan yang memerlukan pengambilan keputusan secara kritis. Keputusan yang diambil berdasarkan hasil penelitian ilmiah akan lebih mendatangkan hasil yang diharapkan. Penelitian ilmiah itu:
1. Befokus pada pemecahan masalah
2. Mengikuti metode langkah yang logis, terorganisasi dan ketat untuk mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data, menganalisisnya, kemudian menarik kesimpulan yang valid atasnya.
3. berdasar pada tujuan yang jelas dan ketepatan.
4. tidak berdasarkan pada firasat, pengalaman, dan instuisi.
5. memungkinkan orang yang berkepentingan sampai pada temuan yang bisa dibandingkan ketika data di analisis.
6. membantu peneliti untuk menyatakan temuan dengan akurat dan yakin.
7. objektif
8. menolong manajer untuk menyoroti faktor penting dalam dunia kerja.
9. merupakan aspek integaral dari pemecahan masalah yanh efektif.
Suatu proses dikatakan sistematis bilamana:
1. masalah diidentifikasi dengan hati-hati
2. data dikumpulkan dan di analisis secara ilmiah
3. kesimpulan ditarik secara objektif untuk keefektifan pemecahan masalah
KARAKTERISTIK PENELITIAN ILMIAH
Penelitian ilmiah memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Tujuan jelas
Penelitian dimulai dengan sasaran yang jelas.
2. Ketepatan
Penelitian dilakukan dengan hati-hati, cermat, teliti, memiliki dasar teori yang baik.
3. Dapat diuji
Penelitian diuji hipotesisnya secara logis untuk memastikan apakah data mendukung hipotesis yang dibuat.
4. Objektifitas
5. Dapat digeneralisasi
Penelitian memiliki kegunaan dan nilai pada demua konteks, situasi, atau organisasi lainnya.
6. Hemat
Penelitian memiliki kesederhanaan dalam menjelaskan fenomena dan dalam menjelaskan solusi masalah.
KETERBATASAN PENELITIAN ILMIAH DALAM BIDANG MANAJEMEN
Keterbatasan yang ada dalam penelitian ilmiah yang dilakukan di bidang manajemen adalah tidak selalu mungkin untuk melakukan investigasi yang 100% ilmiah. Investigasi ilmiah hendaknya digunakan dalam mendesain penelitian untuk memastikan kejelasan tujuan, ketepatan, dan sifat dapat diuji, dapat ditiru, dapat digeneralisasi, objektivitas, hemat, ketelitian, dan keyakinan yang semaksimal mungkin.
RINTANGAN SAINS DALAM PENELITIAN
Investigasi ilmiah memiliki banyak metode yang salah satunya adalag metode hipotesis-deduktif.
Deduksi dan Induksi
Deduksi adalah proses yang tiba pada suatu kesimpulan beralasan melalui generalisasi logis dari sebuah fakta yang diketahui, atau proses menarik kesimpulan dari analisis logis yang meyakinkan. Induksi adalah proses mengamati fenomena tertentu dan menarik kesimpulan atasnya. Metode hipotesis-deduktif adalah metode yang dimulai dengan kerangka teoretis, merumuskan hipotesis, dan secara logis menarik kesimpulan dari hasil penelitian.
Gambar Rantangan Sains
Desain penelutian disusun untuk menentukan cara mengumpulkan data lebih lanjut, menganalisis, menginterpretasikan, dan memberikan jawaban atas masalah.
METODE HIPOTESIS-DEDUKTIF
Tujuh langkah yabg termasuk dalam metode hipotesis-deduktif yaitu:
1. Pengamatan
Tahap dimana seseorang merasakan bahwa perubahan tertentu sedang terjadi, atau bahwa perilaku, sikap, perasaan baru sedang mengemuka dalam lingkungan seseorang.
2. Pengumpulan informasi awal
Tahap dimana dilakukan pencarian informasi secara mendalam mengenai hal yang diamati. Dapat dilakukan melalui wawancara yang tidak terstruktur, penelitian pustaka, dan sumber informasi lainnya. Faktor-faktor yang telah teridentifikasi dalam tahap pengumpulan
3. Perumusan teori
Tahap dimana ada usaha untuk menggabungkan semua informasi dengan cara yang logis. Variabel kritis diuji kontribusi dan pengaruhnya dalam menjeladkan alasan terjadinya masalah dan bagaimana menyelesaikannya.
4. Penyusunan hipotesis
Tahap dimana langkah logis selanjutnya setelah perumusan teori. Pengujian hipotesis disebut penelitian deduktif. Proses induksi akan menghasilkan hipotesis yang tidak dirumuskan secara orisinil.
5. Pengumpulan data ilmiah lebih lanjut
Tahap dimana data yang terkait dengan setiap variabel dalam hipotesis perlu dikumpulkan, diperlukan untuk menguji hipotesis yang dihasilkan dalam penelitian. Data pada setiap variabel dalam kerangka teoretis dimana hipotesis menjadi dasar analisis data lebih lanjut.
6. Analisis data
Tahap dimana data yang dikumpulkan dianalisis secara statistik untuk melihat apakah hipotesis terbukti.
7. Deduksi
Deduksi adalah proses tiba pada kesimpulan dengan menginterpretasikan arti dari analisis data.
TIPE PENELITIAN LAINNYA
Studi Kasus
Studi Kasus merupakan studi yang meliputi analisis mendalam dan konstektual terhadap situasi yang mirip dalam organisasi lain ini tidak sering dilakukan dalam organisasi karena berhubungan dengan masalah serupa yang dialami sebuah organisasi.
Penelitian tindakan
Penelitian tindakan biasanya dilakukan oleh konsultan yang ingin memprakarsai proses perubahan dalam organisasi. Penelitian tindakan adalah penelitiab yang berkembang secara terus menerus dengan saling mempengaruhi antara masalag, solusi, pengaruh, atau konsekuensi, dan solusi baru. Hal yang penting dalam penelitian terapan adalah definisi masalah yang bijaksana dan realistis serta cara-cara kreatif untuk mengumpulkan data.
Nama/NIM:
Ika Pradipta Harnandika F 1308555
Ike Yuni Romanika F 1308556
Mike Indah SSP F 1308
Resume Materi Bab Investigasi Ilmiah
S1 Akuntansi Swadana Transfer FE UNS
INVESTIGASI ILMIAH
Manajer sering dihadapkan pada persoalan yang memerlukan pengambilan keputusan secara kritis. Keputusan yang diambil berdasarkan hasil penelitian ilmiah akan lebih mendatangkan hasil yang diharapkan. Penelitian ilmiah itu:
1. Befokus pada pemecahan masalah
2. Mengikuti metode langkah yang logis, terorganisasi dan ketat untuk mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data, menganalisisnya, kemudian menarik kesimpulan yang valid atasnya.
3. berdasar pada tujuan yang jelas dan ketepatan.
4. tidak berdasarkan pada firasat, pengalaman, dan instuisi.
5. memungkinkan orang yang berkepentingan sampai pada temuan yang bisa dibandingkan ketika data di analisis.
6. membantu peneliti untuk menyatakan temuan dengan akurat dan yakin.
7. objektif
8. menolong manajer untuk menyoroti faktor penting dalam dunia kerja.
9. merupakan aspek integaral dari pemecahan masalah yanh efektif.
Suatu proses dikatakan sistematis bilamana:
1. masalah diidentifikasi dengan hati-hati
2. data dikumpulkan dan di analisis secara ilmiah
3. kesimpulan ditarik secara objektif untuk keefektifan pemecahan masalah
KARAKTERISTIK PENELITIAN ILMIAH
Penelitian ilmiah memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Tujuan jelas
Penelitian dimulai dengan sasaran yang jelas.
2. Ketepatan
Penelitian dilakukan dengan hati-hati, cermat, teliti, memiliki dasar teori yang baik.
3. Dapat diuji
Penelitian diuji hipotesisnya secara logis untuk memastikan apakah data mendukung hipotesis yang dibuat.
4. Objektifitas
5. Dapat digeneralisasi
Penelitian memiliki kegunaan dan nilai pada demua konteks, situasi, atau organisasi lainnya.
6. Hemat
Penelitian memiliki kesederhanaan dalam menjelaskan fenomena dan dalam menjelaskan solusi masalah.
KETERBATASAN PENELITIAN ILMIAH DALAM BIDANG MANAJEMEN
Keterbatasan yang ada dalam penelitian ilmiah yang dilakukan di bidang manajemen adalah tidak selalu mungkin untuk melakukan investigasi yang 100% ilmiah. Investigasi ilmiah hendaknya digunakan dalam mendesain penelitian untuk memastikan kejelasan tujuan, ketepatan, dan sifat dapat diuji, dapat ditiru, dapat digeneralisasi, objektivitas, hemat, ketelitian, dan keyakinan yang semaksimal mungkin.
RINTANGAN SAINS DALAM PENELITIAN
Investigasi ilmiah memiliki banyak metode yang salah satunya adalag metode hipotesis-deduktif.
Deduksi dan Induksi
Deduksi adalah proses yang tiba pada suatu kesimpulan beralasan melalui generalisasi logis dari sebuah fakta yang diketahui, atau proses menarik kesimpulan dari analisis logis yang meyakinkan. Induksi adalah proses mengamati fenomena tertentu dan menarik kesimpulan atasnya. Metode hipotesis-deduktif adalah metode yang dimulai dengan kerangka teoretis, merumuskan hipotesis, dan secara logis menarik kesimpulan dari hasil penelitian.
Gambar Rantangan Sains
Desain penelutian disusun untuk menentukan cara mengumpulkan data lebih lanjut, menganalisis, menginterpretasikan, dan memberikan jawaban atas masalah.
METODE HIPOTESIS-DEDUKTIF
Tujuh langkah yabg termasuk dalam metode hipotesis-deduktif yaitu:
1. Pengamatan
Tahap dimana seseorang merasakan bahwa perubahan tertentu sedang terjadi, atau bahwa perilaku, sikap, perasaan baru sedang mengemuka dalam lingkungan seseorang.
2. Pengumpulan informasi awal
Tahap dimana dilakukan pencarian informasi secara mendalam mengenai hal yang diamati. Dapat dilakukan melalui wawancara yang tidak terstruktur, penelitian pustaka, dan sumber informasi lainnya. Faktor-faktor yang telah teridentifikasi dalam tahap pengumpulan
3. Perumusan teori
Tahap dimana ada usaha untuk menggabungkan semua informasi dengan cara yang logis. Variabel kritis diuji kontribusi dan pengaruhnya dalam menjeladkan alasan terjadinya masalah dan bagaimana menyelesaikannya.
4. Penyusunan hipotesis
Tahap dimana langkah logis selanjutnya setelah perumusan teori. Pengujian hipotesis disebut penelitian deduktif. Proses induksi akan menghasilkan hipotesis yang tidak dirumuskan secara orisinil.
5. Pengumpulan data ilmiah lebih lanjut
Tahap dimana data yang terkait dengan setiap variabel dalam hipotesis perlu dikumpulkan, diperlukan untuk menguji hipotesis yang dihasilkan dalam penelitian. Data pada setiap variabel dalam kerangka teoretis dimana hipotesis menjadi dasar analisis data lebih lanjut.
6. Analisis data
Tahap dimana data yang dikumpulkan dianalisis secara statistik untuk melihat apakah hipotesis terbukti.
7. Deduksi
Deduksi adalah proses tiba pada kesimpulan dengan menginterpretasikan arti dari analisis data.
TIPE PENELITIAN LAINNYA
Studi Kasus
Studi Kasus merupakan studi yang meliputi analisis mendalam dan konstektual terhadap situasi yang mirip dalam organisasi lain ini tidak sering dilakukan dalam organisasi karena berhubungan dengan masalah serupa yang dialami sebuah organisasi.
Penelitian tindakan
Penelitian tindakan biasanya dilakukan oleh konsultan yang ingin memprakarsai proses perubahan dalam organisasi. Penelitian tindakan adalah penelitiab yang berkembang secara terus menerus dengan saling mempengaruhi antara masalag, solusi, pengaruh, atau konsekuensi, dan solusi baru. Hal yang penting dalam penelitian terapan adalah definisi masalah yang bijaksana dan realistis serta cara-cara kreatif untuk mengumpulkan data.
Label:
Metodologi Penelitian
September 09, 2009
Review Jurnal 'Komite Audit, Komisaris Independen, dan Manajemen Laba: Studi Kasus Perusahaan di Bursa Efek Jakarta'
Penelitian ini dilakukan oleh I Putu Sugihartha Sanjaya dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan secara empiris apakah auditor big four dapat mengurangi dan mencegah manajemen laba untuk konteks indonesia, dan untuk mengetahui hubungan antara komite audit dan komisaris independen, dengan praktik manajemen laba (earnings manajement) dalam laporan keuangan yang dipublikasikan. Hipotesis penelitian adalah bahwa komite audit dan komisaris independen memiliki korelasi negatif dengan manajemen laba. Untuk komite audit dan komisaris independen, penelitian ini menggunakan data yang berasal dari pengumuman BEJ tentang pembentukan komite audit dan pengangkatan komisaris independen. Sementara manajemen laba dicerminkan oleh discretionary accruals yang dihitung dari model Jones yang dimodifikasi. Tinjauan pustaka dalam penelitian ini antara lain SFAC No.1 tentang tujuan pelaporan keuangan perusahaan, Teori Keagenan, Manajemen Laba, Motivasi Bonus, Motivasi Kontraktual Lainnya, Motivasi Politik, Motivasi Pajak, Pergantian CEO, Motivasi Pasar Modal, Auditor Eksternal dan Manajemen Laba, Komite Audit dan Manajemen Laba, Auditor Eksternal, Komite Audit dan Manajemen Laba. Data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari laporan keuangan auditan, pengumuman pembentukan komite audit oleh emiten di Bursa Efek Jakarta (BEJ), data KAP yang berafiliasi dengan big four dan non big four. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling. Sampel yang digunakan didasarkan pada enam kriteria perusahaan, kemudian diambil sebanyak 127 perusahaan setiap tahun. Dalam penentuan dan pengukuran variabel, penelitian ini mengukur akrual diskresioner sebagai manajemen laba. Terjadinya manajemen laba diukur dengan model Jones. Pengujian hipotesis 1 dan hipotesis 2 dilakukan dengan independent sample t test dan regresi, dengan variabel kontrol leverage dan aset. Pengujian hipotesis 3 dilakukan dengan ANOVA 2x2 yaitu auditor dan komite audit.
Dengan persamaan regres dua tahap, penelitian ini menemukan bukti bahwa komite audit memiliki hubungan yang negatif signifikan dengan tingkat akrual diskresi yang negatif. Ini berarti bahwa keberadaan komite audit berasosiasi dengan income decreasing earnings management. Komite audit juga terbukti memiliki hubungan yang positif dengan akrual diskresi yang negatif. Ini berarti bahwa keberadaan komite audit berasosiasi dengan income decreasing earnings management. Komite audit juga terbukti memiliki hubungan yang positif dengan akrual diskresi yang positif, yang berarti bahwa komite audit yang sesuai dengan ketentuan BEJ justru ditemukan pada perusahaan yang melakukan manajemen laba secara income increasing. Dalam penelitian ini komisaris independen tidak terbukti memiliki hubungan signifikan dengan praktik manajemen laba. Ada atau tidaknya komisaris independen yang sesuai dengan ketentuan BEJ tidak dapat diasosiasikan dengan praktik manajemen laba yang dilakukan perusahaan. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa peranan komite audit dan komisaris independen dalam perusahaan, dan peraturan BEJ yang berkaitan dengan aspek corporate governance, belumlah efektif. Di samping itu, penelitian ini menemukan bahwa variabel tingkat leverage dan pemilihan auditor eksternal ternyata tidak cukup bisa dalam menjelaskan praktik manajemen laba. Hanya variabel ukuran perusahaan (size) yang ditemukan memiliki hubungan negatif dengan income increasing discretionary accruals. Pada akhirnya penelitian ini menyimpulkan bahwa auditor berkualitas dan bereputasi yang ditunjukkan oleh KAP yang berafiliasi dengan big four mampu mencegah dan mengurangi manajemen laba.
iKainheRe
:::: tHe fRienDLy kinDLy cHeeRy giRL ::::
Dengan persamaan regres dua tahap, penelitian ini menemukan bukti bahwa komite audit memiliki hubungan yang negatif signifikan dengan tingkat akrual diskresi yang negatif. Ini berarti bahwa keberadaan komite audit berasosiasi dengan income decreasing earnings management. Komite audit juga terbukti memiliki hubungan yang positif dengan akrual diskresi yang negatif. Ini berarti bahwa keberadaan komite audit berasosiasi dengan income decreasing earnings management. Komite audit juga terbukti memiliki hubungan yang positif dengan akrual diskresi yang positif, yang berarti bahwa komite audit yang sesuai dengan ketentuan BEJ justru ditemukan pada perusahaan yang melakukan manajemen laba secara income increasing. Dalam penelitian ini komisaris independen tidak terbukti memiliki hubungan signifikan dengan praktik manajemen laba. Ada atau tidaknya komisaris independen yang sesuai dengan ketentuan BEJ tidak dapat diasosiasikan dengan praktik manajemen laba yang dilakukan perusahaan. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa peranan komite audit dan komisaris independen dalam perusahaan, dan peraturan BEJ yang berkaitan dengan aspek corporate governance, belumlah efektif. Di samping itu, penelitian ini menemukan bahwa variabel tingkat leverage dan pemilihan auditor eksternal ternyata tidak cukup bisa dalam menjelaskan praktik manajemen laba. Hanya variabel ukuran perusahaan (size) yang ditemukan memiliki hubungan negatif dengan income increasing discretionary accruals. Pada akhirnya penelitian ini menyimpulkan bahwa auditor berkualitas dan bereputasi yang ditunjukkan oleh KAP yang berafiliasi dengan big four mampu mencegah dan mengurangi manajemen laba.
:::: tHe fRienDLy kinDLy cHeeRy giRL ::::
September 08, 2009
KOMITE AUDIT, KOMISARIS INDEPENDEN DAN MANAJEMEN LABA: STUDI KASUS PERUSAHAAN DI BURSA EFEK JAKARTA
Abstraksi
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komite audit dan komisaris independen, dengan praktek manajemen laba (earnings management) dalam laporan keuangan yang dipublikasikan. Hipotesis penelitian adalah bahwa komite audit dan komisaris independen memiliki korelasi negatif dengan manajemen laba. Untuk komite audit dan komisaris independen, penelitian ini menggunakan data yang berasal dari pengumuman BEJ tentang pembentukan komite audit dan pengangkatan komisaris independen. Sementara manajemen laba dicerminkan oleh discretionary accruals yang dihitung dari model Jones yang dimodifikasi. Dengan persamaan regres dua tahap, penelitian ini menemukan bukti bahwa komite audit memiliki hubungan yang negatif siknifikan dengan tingkat akrual diskresi yang negatif. Ini berarti bahwa keberadaan komite audit berasosiasi dengan income decreasing earnings management. Komite audit juga terbukti memiliki hubungan yang positif dengan akrual diskresi yang positif, yang berarti bahwa komite audit yang sesuai dengan ketentuan BEJ justru ditemukan pada perusahaan yang melakukan manajemen laba secara income increasing. Komisaris independen dalam penelitian ini tidak terbukti memiliki hubungan siknifikan dengan praktek manajemen laba. Ada atau tidaknya komisaris independen yang sesuai dengan ketentuan BEJ tidak dapat diasosiasikan dengan praktek manajemen laba yang dilakukan perusahaan. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa peranan komite audit dan komisaris independen dalam perusahaan, dan peraturan BEJ yang berkaitan dengan aspek corporate governance, belumlah efektif. Di samping itu, penelitian ini menemukan bahwa variabel tingkat leverage dan pemilihan auditor eksternal ternyata tidak cukup bisa menjelaskan praktek manajemen laba. Hanya variabel ukuran perusahaan (size) yang ditemukan memiliki hubungan negatif dengan income increasing discretionary accruals.
iKainheRe
:::: tHe fRienDLy kinDLy cHeeRy giRL ::::
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komite audit dan komisaris independen, dengan praktek manajemen laba (earnings management) dalam laporan keuangan yang dipublikasikan. Hipotesis penelitian adalah bahwa komite audit dan komisaris independen memiliki korelasi negatif dengan manajemen laba. Untuk komite audit dan komisaris independen, penelitian ini menggunakan data yang berasal dari pengumuman BEJ tentang pembentukan komite audit dan pengangkatan komisaris independen. Sementara manajemen laba dicerminkan oleh discretionary accruals yang dihitung dari model Jones yang dimodifikasi. Dengan persamaan regres dua tahap, penelitian ini menemukan bukti bahwa komite audit memiliki hubungan yang negatif siknifikan dengan tingkat akrual diskresi yang negatif. Ini berarti bahwa keberadaan komite audit berasosiasi dengan income decreasing earnings management. Komite audit juga terbukti memiliki hubungan yang positif dengan akrual diskresi yang positif, yang berarti bahwa komite audit yang sesuai dengan ketentuan BEJ justru ditemukan pada perusahaan yang melakukan manajemen laba secara income increasing. Komisaris independen dalam penelitian ini tidak terbukti memiliki hubungan siknifikan dengan praktek manajemen laba. Ada atau tidaknya komisaris independen yang sesuai dengan ketentuan BEJ tidak dapat diasosiasikan dengan praktek manajemen laba yang dilakukan perusahaan. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa peranan komite audit dan komisaris independen dalam perusahaan, dan peraturan BEJ yang berkaitan dengan aspek corporate governance, belumlah efektif. Di samping itu, penelitian ini menemukan bahwa variabel tingkat leverage dan pemilihan auditor eksternal ternyata tidak cukup bisa menjelaskan praktek manajemen laba. Hanya variabel ukuran perusahaan (size) yang ditemukan memiliki hubungan negatif dengan income increasing discretionary accruals.
:::: tHe fRienDLy kinDLy cHeeRy giRL ::::
Label:
Metodologi Penelitian
Format Proposal Penelitian
DAFTAR ISI
JUDUL PENELITIAN
Judul harus menggambarkan apa yang ingin dilakukan dan kontribusi apa yang ingin dicapai pada bidang yang diteliti. Gunakan kata sesedikit mungkin.
PENDAHULUAN
Jalaskan topik penelitian secara umum, dan kemudian pada permasalahan yang lebih spesifik (dimana permasalahan terjadi, dampaknya pada siapa, dan apa implikasinya). Berikan informasi yang cukup sehingga pembaca dapat melihat cakupan dari permasalahan.
MASALAH PENELITIAN
Sebutkan dengan jelas dan singkat pertanyaan penelitian. Kemukakan juga dari mana datangnya pertanyaan penelitian ini kushusnya dengan memperlihatkan gap yang ada pada literature. Klarifikasi konsep yang tidak jelas.
Jelaskan juga mengapa penelitian ini penting. Di sini dapat dikemukakan tentang bagaimana nantinya penelitian ini dapat berkontribusi. Pikirkan bagaimana penelitian saudara dalam hal:
• menyelesaikan pertanyaan secara teoritis,
• membangun model teoritis yang lebih baik
• mempengaruhi kebijaksanaan untuk masyarakat
• mempengaruhi cara kerja dan hidup manusia
Sebutkan jika ada kontribusi lain.
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian adalah pernyataan singkat yang mengungkapkan apa yang hendak dicapai atau dihasilkan dari penelitian yang akan dilaksanakan. Tujuan penelitian harus mencerminkan apa yang dibahas pada pendahuluan dan masalah penelitian.
TINJAUAN PUSTAKA
Jelaskan kerangka konseptual sehingga pertanyaan dan metodologi penelitian dapat dimengerti lebih baik oleh pembaca.
Tunjukkan (kepada pakar) bahwa peneliti mengetahui kedalaman dan keragaman dari literatur yang berhubungan dengan pertanyaan penelitian.
Sangat penting untuk menunjukkan sebuah pandangan yang terintegrasi dari bidang yang saudara pelajari. Ini menunjukkan bahwa saudara mengetahui teori, model, penelitian dan metodologi yang paling penting dan relefan.
METODE PENELITIAN
Sebutkan secara sepesifik apa yang hendak di uji atau hipotesa.
Jelaskan desain penelitian, sample atau kasus, instrument pengukuran, prosedur pengumpulan data, dan analisa data.
KERJASAMA DENGAN INSTITUSI LAIN
Sebutkan pihak-pihak yang diajak/mengajak kerjasama dan apa peranan mereka.
RENCANA PUBLIKASI
Berikan rencana yang akan dilakukan untuk mempublikasikan penelitian saudara pada jurnal yang terakreditasi.
JADWAL PELAKSANAAN
Berikan jadwal kegiatan penelitian secara berurutan mulai persiapan, pelaksanaan sampai penyusunan laporan dalam bentuk tabel. Tabel tersebut memberikan rincian kegiatan dari jadwal (kapan dan lamanya) pelaksanaan kegiatan tersebut.
PERANAN DAN TANGGUNG JAWAB
Jelaskan bagaimana tim peneliti diorganisasikan, jika perlu gunakan bagan struktur organisasi. Sebutkan peranan dan tanggung jawab mereka. Gunakan tabel dibawah ini sesuai sesuai dengan kebutuhan.
iKainheRe
:::: tHe fRienDLy kinDLy cHeeRy giRL ::::
JUDUL PENELITIAN
Judul harus menggambarkan apa yang ingin dilakukan dan kontribusi apa yang ingin dicapai pada bidang yang diteliti. Gunakan kata sesedikit mungkin.
PENDAHULUAN
Jalaskan topik penelitian secara umum, dan kemudian pada permasalahan yang lebih spesifik (dimana permasalahan terjadi, dampaknya pada siapa, dan apa implikasinya). Berikan informasi yang cukup sehingga pembaca dapat melihat cakupan dari permasalahan.
MASALAH PENELITIAN
Sebutkan dengan jelas dan singkat pertanyaan penelitian. Kemukakan juga dari mana datangnya pertanyaan penelitian ini kushusnya dengan memperlihatkan gap yang ada pada literature. Klarifikasi konsep yang tidak jelas.
Jelaskan juga mengapa penelitian ini penting. Di sini dapat dikemukakan tentang bagaimana nantinya penelitian ini dapat berkontribusi. Pikirkan bagaimana penelitian saudara dalam hal:
• menyelesaikan pertanyaan secara teoritis,
• membangun model teoritis yang lebih baik
• mempengaruhi kebijaksanaan untuk masyarakat
• mempengaruhi cara kerja dan hidup manusia
Sebutkan jika ada kontribusi lain.
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian adalah pernyataan singkat yang mengungkapkan apa yang hendak dicapai atau dihasilkan dari penelitian yang akan dilaksanakan. Tujuan penelitian harus mencerminkan apa yang dibahas pada pendahuluan dan masalah penelitian.
TINJAUAN PUSTAKA
Jelaskan kerangka konseptual sehingga pertanyaan dan metodologi penelitian dapat dimengerti lebih baik oleh pembaca.
Tunjukkan (kepada pakar) bahwa peneliti mengetahui kedalaman dan keragaman dari literatur yang berhubungan dengan pertanyaan penelitian.
Sangat penting untuk menunjukkan sebuah pandangan yang terintegrasi dari bidang yang saudara pelajari. Ini menunjukkan bahwa saudara mengetahui teori, model, penelitian dan metodologi yang paling penting dan relefan.
METODE PENELITIAN
Sebutkan secara sepesifik apa yang hendak di uji atau hipotesa.
Jelaskan desain penelitian, sample atau kasus, instrument pengukuran, prosedur pengumpulan data, dan analisa data.
KERJASAMA DENGAN INSTITUSI LAIN
Sebutkan pihak-pihak yang diajak/mengajak kerjasama dan apa peranan mereka.
RENCANA PUBLIKASI
Berikan rencana yang akan dilakukan untuk mempublikasikan penelitian saudara pada jurnal yang terakreditasi.
JADWAL PELAKSANAAN
Berikan jadwal kegiatan penelitian secara berurutan mulai persiapan, pelaksanaan sampai penyusunan laporan dalam bentuk tabel. Tabel tersebut memberikan rincian kegiatan dari jadwal (kapan dan lamanya) pelaksanaan kegiatan tersebut.
PERANAN DAN TANGGUNG JAWAB
Jelaskan bagaimana tim peneliti diorganisasikan, jika perlu gunakan bagan struktur organisasi. Sebutkan peranan dan tanggung jawab mereka. Gunakan tabel dibawah ini sesuai sesuai dengan kebutuhan.
:::: tHe fRienDLy kinDLy cHeeRy giRL ::::
Label:
Metodologi Penelitian
Buku Metodologi Penelitian Kuliah
Metodologi Penelitian untuk Bisnis 1 Edisi 4
oleh: Uma Sekaran
> Bisnis, Manajemen & Keuangan » Manajemen & Leadership
> Textbooks » Universitas » Bisnis » Management
List Price : Rp 64.900
Your Price : Rp 55.165 (15% OFF)
Penerbit : Salemba
Edisi : Soft Cover
ISBN : 979691316x
Tgl Penerbitan : 2006
Bahasa : Indonesia
Halaman : 284
Ukuran : 21 x 26 cm
Sinopsis Buku:
Buku Metode Penelitian untuk Bisnis edisi ke-4 ini adalah salah satu buku teks yang paling banyak digunakan dalam mata kuliah metodologi penelitian maupun oleh mereka yang melakukan penelitian. Seperti edisi-edisi sebelumnya, edisi ini tetap mempertahankan cara penyampaian informasi dengan gaya sederhana dan informal serta berfokus pada pengembangan keterampilan praktis.
Buku ini memberikan banyak contoh dalam berbagai bidang bisnis-produksi, manajemen operasi, kebijakan dan strategi bisnis, perilaku organisasi, manajemen sumber daya manusia, sistem informasi, pemasaran, akuntansi, dan keuangan-selain untuk menjelaskan konsep dan pokok materi yang disampaikan, juga untuk menunjukkan bahwa penelitian mempunyai aplikasi yang luas di seluruh bidang bisnis. Melalui buku ini, mahasiswa akan menemukan bahwa penelitian adalah hal yang menarik, tidak mengintimidasi, dan mempunyai kegunaan praktis.
Daftar Isi
Buku 1 :
Bab 1 Pengantar Penelitian Bab 2 Investigasi Ilmiah Bab 3 Teknologi dan Penelitian Bisnis Bab 4 Proses Penelitian :
Langkah 1 sampai 3: Bidang Masalah yang Luas, Pengumpulan Data Awal, Definisi Masalah
Bab 5 Proses Penelitian :
Langkah 4 dan 5: Kerangka Teoritis, Penyusunan Hipotesis
Bab 6 Proses Penelitian :
Langkah 6: Unsur-unsur Desain Penelitian
Bab 7 Desain Eksperimen
Buku 2 :
Bab 8 Pengukuran Variabel: Definisi Operasional dan Skala Bab 9 Pengukuran: Penskalaan, Keandalan, Validitas Bab 10 Metode Pengumpulan Data Bab 11 Pengambilan Sampel Bab 12 Analisis Data dan Interprestasi Bab 13 Laporan Penelitian Bab 14 Pengambilan Keputusan Manajerial dan Penelitian
iKainheRe
:::: tHe fRienDLy kinDLy cHeeRy giRL ::::
oleh: Uma Sekaran
> Bisnis, Manajemen & Keuangan » Manajemen & Leadership
> Textbooks » Universitas » Bisnis » Management
List Price : Rp 64.900
Your Price : Rp 55.165 (15% OFF)
Penerbit : Salemba
Edisi : Soft Cover
ISBN : 979691316x
Tgl Penerbitan : 2006
Bahasa : Indonesia
Halaman : 284
Ukuran : 21 x 26 cm
Sinopsis Buku:
Buku Metode Penelitian untuk Bisnis edisi ke-4 ini adalah salah satu buku teks yang paling banyak digunakan dalam mata kuliah metodologi penelitian maupun oleh mereka yang melakukan penelitian. Seperti edisi-edisi sebelumnya, edisi ini tetap mempertahankan cara penyampaian informasi dengan gaya sederhana dan informal serta berfokus pada pengembangan keterampilan praktis.
Buku ini memberikan banyak contoh dalam berbagai bidang bisnis-produksi, manajemen operasi, kebijakan dan strategi bisnis, perilaku organisasi, manajemen sumber daya manusia, sistem informasi, pemasaran, akuntansi, dan keuangan-selain untuk menjelaskan konsep dan pokok materi yang disampaikan, juga untuk menunjukkan bahwa penelitian mempunyai aplikasi yang luas di seluruh bidang bisnis. Melalui buku ini, mahasiswa akan menemukan bahwa penelitian adalah hal yang menarik, tidak mengintimidasi, dan mempunyai kegunaan praktis.
Daftar Isi
Buku 1 :
Bab 1 Pengantar Penelitian Bab 2 Investigasi Ilmiah Bab 3 Teknologi dan Penelitian Bisnis Bab 4 Proses Penelitian :
Langkah 1 sampai 3: Bidang Masalah yang Luas, Pengumpulan Data Awal, Definisi Masalah
Bab 5 Proses Penelitian :
Langkah 4 dan 5: Kerangka Teoritis, Penyusunan Hipotesis
Bab 6 Proses Penelitian :
Langkah 6: Unsur-unsur Desain Penelitian
Bab 7 Desain Eksperimen
Buku 2 :
Bab 8 Pengukuran Variabel: Definisi Operasional dan Skala Bab 9 Pengukuran: Penskalaan, Keandalan, Validitas Bab 10 Metode Pengumpulan Data Bab 11 Pengambilan Sampel Bab 12 Analisis Data dan Interprestasi Bab 13 Laporan Penelitian Bab 14 Pengambilan Keputusan Manajerial dan Penelitian
:::: tHe fRienDLy kinDLy cHeeRy giRL ::::
Label:
Metodologi Penelitian
Apa itu Penelitian
Pengantar: Apakah Penelitian itu?—1
PENGANTAR:
APAKAH PENELITIAN
ITU?
Tulisan Asli:
Babbie, Earl. 1989. The Practice of Social Research. Fifth Edition. Wadsworth Publishing Company,
Belmont, California. Hal. 80-82.
Dane, Francis C. 1990. Research Methods. Brooks/Cole Publishing Company, Belmont, California.
Chapter 1: "Introduction", hal. 3-19.
Leedy, Paul D. 1997. Practical Research: Planning and Design. Sixth Edition. Prectice Hall, Upper
Saddle River, New Jersey. Chapter 1: “What Is Research?”, hal. 3-15.
Zeisel, John. 1981. Inquiry By Design: Tools for Environment-Behavior Research. Cambridge
University Press, Cambridge. Chapters 1, 2, 3. Hal. 3-50
Digabung, diterjemahkan, disingkat dan dimodifikasi untuk kepentingan kuliah Metodologi Penelitian di
tingkat program pascasarjana oleh:
Achmad Djunaedi (2000).
Daftar Isi Bab ini: Halaman:
Pengertian yang salah tentang Penelitian 2
Pengertian yang benar tentang Penelitian dan
Karakteristik Proses Penelitian 4
Macam Tujuan Penelitian 5
Hubungan Penelitian dengan Perancangan 8
ata penelitian atau riset dipergunakan dalam pembicaraan sehari-hari untuk melingkup
spektrum arti yang luas, yang dapat membuat bingung mahasiswa—terutama mahasiswa
pascasarjana—yang harus mempelajari arti kata tersebut dengan tanda-tanda atau petunjuk
yang jelas untuk membedakan yang satu dengan yang lain. Dapat saja, sesuatu yang dulunya
dikenali sebagai penelitian ternyata bukan, dan beberapa konsep yang salah tentunya harus
dibuang dan diganti konsep yang benar.
Pada dasarnya, manusia selalu ingin tahu dan ini mendorong manusia untuk bertanya
dan mencari jawaban atas pertanyaan itu. Salah satu cara untuk mencari jawaban adalah
dengan mengadakan penelitian. Cara lain yang lebih mudah, tentunya, adalah dengan
bertanya pada seseorang atau “bertanya” pada buku—tapi kita tidak selalu dapat
mendapat jawaban, atau kita mungkin mendapatkan jawaban tapi tidak meyakinkan.
K
2— Pengantar: Apakah Penelitian itu?
Pengertian penelitian sering dicampuradukkan dengan: pengumpulan data atau
informasi, studi pustaka, kajian dokumentasi, penulisan makalah, perubahan kecil pada
suatu produk, dan sebagainya. Kata penelitian atau riset sering dikonotasikan dengan
bekerja secara eksklusif menyendiri di laboratorium, di perpustakaan, dan lepas dari
kehidupan sehari-hari.
Menjadi tujuan bab ini untuk menjelaskan pengertian penelitian dan
membedakannya dengan hal-hal yang bukan penelitian. Pengertian penelitian yang
disarankan oleh Leedy (1997: 3) sebagai berikut:
Penelitian (riset) adalah proses yang sistematis meliputi pengumpulan dan analisis informasi
(data) dalam rangka meningkatkan pengertian kita tentang fenomena yang kita minati atau
menjadi perhatian kita.
Mirip dengan pengertian di atas, Dane (1990: 4) menyarankan definisi sebagai berikut:
Penelitian merupakan proses kritis untuk mengajukan pertanyaan dan berupaya untuk
menjawab pertanyaan tentang fakta dunia.
Seperti disebutkan di atas, mungkin di masa lalu, kita mendapatkan banyak konsep
(pengertian) tentang penelitian, yang sebagian daripadanya merupakan konsep yang salah.
Untuk memperjelas hal tersebut, di bawah ini dikaji pengertian yang “salah” tentang
penelitian (menurut kita—kaum akademisi).
Pengertian yang salah tentang Penelitian
Secara umum, berdasar konsep-konsep yang “salah” tentang penelitian, maka perlu
digarisbawahi empat pengertian sebagai berikut:
(1) Penelitian bukan hanya mengumpulkan informasi (data)
(2) Penelitian bukan hanya memindahkan fakta dari suatu tempat ke tempat lain
(3) Penelitian bukan hanya membongkar-bongkar mencari informasi
(4) Penelitian bukan suatu kata besar untuk menarik perhatian.
Lebih lanjut kesalahan pengertian tersebut dijelaskan di bawah ini.
1. Penelitian bukan hanya mengumpulkan informasi (data)
Pernah suatu ketika, seorang mahasiswa mengajukan usul (proposal) penelitian
untuk “meneliti” sudut kemiringan sebuah menara pemancar TV di kotanya. Ia mengusulkan
untuk menggunakan peralatan canggih dari bidang keteknikan untuk mengukur kemiringan
menara tersebut. Meskipun peralatannya canggih, tetapi yang ia lakukan sebenarnya
Pengantar: Apakah Penelitian itu?—3
hanyalah suatu survei (pengumpulan data/informasi) saja, yaitu mengukur kemiringan
menara tersebut, dan survei itu bukan penelitian (tapi bagian dari suatu penelitian).
Para siswa suatu SD kelas 4 diajak gurunya untuk melakukan “penelitian” di
perpustakaan. Salah seorang siswa mempelajari tentang Columbus dari beberapa buku.
Sewaktu pulang ke rumah, ia melapor kepada ibunya bahwa ia baru saja melakukan
penelitian tentang Columbus. Sebenarnya, yang ia lakukan hanya sekedar mengumpulkan
informasi, bukan penelitian. Mungkin gurunya bermaksud untuk mengajarkan keahlian
mencari informasi dari pustaka (reference skills).
2. Penelitian bukan hanya memindahkan fakta dari suatu tempat ke tempat lain
Seorang mahasiswa telah menyelesaikan sebuah makalah tugas “penelitian” tentang
teknik -teknik pembangunan bangunan tinggi di Jakarta. Ia telah berhasil mengumpulkan
banyak artikel dari suatu majalah konstruksi bangunan dan secara sistematis melaporkannya
dalam makalahnya, dengan disertai teknik acuan yang benar. Ia mengira telah melakukan
suatu penelitian dan menyusun makalah penelitian. Sebenarnya, yang ia lakukan hanyalah:
mengumpulkan informasi/data, merakit kutipan-kutipan pustaka dengan teknik pengacuan
yang benar. Untuk disebut sebagai penelitian, yang dikerjakannya kurang satu hal, yaitu:
interpretasi data. Hal ini dapat dilakukan dengan cara antara lain menambahkan misalnya:
“Fakta yang terkumpul menunjukkan indikasi bahwa faktor x dan y sangat mempengaruhi
cara pembangunan bangunan tinggi di Jakarta”. Dengan demikian, ia bukan hanya
memindahkan informasi/data/fakta dari artikel majalah ke makalahnya, tapi juga menganalis
informasi/data/fakta sehingga ia mampu untuk menyusun interpretasi terhadap
informasi/data/fakta yang terkumpul tersebut.
3. Penelitian bukan hanya membongkar-bongkar mencari informasi
Seorang Menteri menyuruh stafnya untuk memilihkan empat buah kotamadya (di
wilayah Indonesia bagian timur) yang memenuhi beberapa kriteria untuk diberi bantuan
pembangunan prasarana dasar perkotaan. Stafnya tersebut berpikir bahwa ia harus
melakukan “penelitian”. Ia kemudian pergi ke Kantor Statistik, membongkar
arsip/dokumen statistik kotamadya -kotamadya yang ada di wilayah IBT tersebut. Dengan
membandingkan data statistik yang terkumpul dengan kriteria yang diberi oleh Menteri, ia
berhasil memilih empat kotamadya yang paling memenuhi kriteria-kriteria tersebut. Staf
tersebut melaporkan hasil “penelitiannya” ke Menteri. Sebenarnya yang dilakukan oleh staf
tersebut hanyalah mencari data (data searching, rummaging) dan mencocokknnya
(matching) dengan kriteria , dan itu bukan penelitian.
4. Penelitian bukan suatu kata besar untuk menarik perhatian
4— Pengantar: Apakah Penelitian itu?
Kata “…penelitian” sering dipakai oleh surat kabar, majalah populer, dan iklan
untuk menarik perhatian (“mendramatisir”). Misalnya, berita di surat kabar: “Presiden akan
melakukan penelitian terhadap Pangdam yang ingin ‘mreteli’ kekuasaan Presiden”. Contoh
lain: berita “Semua anggota DPRD tidak perlu lagi menjalani penelitian khusus (litsus)”.
Contoh lain lagi: “Produk ini merupakan hasil penelitian bertahun-tahun” (padahal hanya
dirubah sedikit formulanya dan namanya diganti agar konsumen tidak bosan).
Pengertian yang benar tentang Penelitian dan Karakteristik Proses
Penelitian
Pengertian yang benar tentang penelitian sebagai berikut, menurut Leedy (1997: 5):
Penelitian adalah suatu proses untuk mencapai (secara sistematis dan didukung oleh data)
jawaban terhadap suatu pertanyaan, penyelesaian terhadap permasalahan, atau pemahaman
yang dalam terhadap suatu fenomena.
Proses tersebut, yang sering disebut sebagai metodologi penelitian, mempunyai delapan
macam karakteristik:
1) Penelitian dimulai dengan suatu pertanyaan atau permasalahan.
2) Penelitian memerlukan pernyataan yang jelas tentang tujuan.
3) Penelitian mengikuti rancangan prosedur yang spesifik.
4) Penelitian biasanya membagi permasalahan utama menjadi sub-sub masalah yang lebih
dapat dikelola.
5) Penelitian diarahkan oleh permasalahan, pertanyaan, atau hipotesis penelitian yang
spesifik.
6) Penelitian menerima asumsi kritis tertentu.
7) Penelitian memerlukan pengumpulan dan interpretasi data dalam upaya untuk
mengatasi permasalahan yang mengawali penelitian.
8) Penelitian adalah, secara alamiahnya, berputar secara siklus; atau lebih tepatnya,
helikal—seperti terlihat pada gambar di bawah ini.
Pengantar: Apakah Penelitian itu?—5
Penelitian dimulai dengan
sebuah permasalahan:
sebuah pertanyaan
yang belum terjawab
di pikiran peneliti
Penelitian melihat tujuan
dalam suatu
pernyataan permasalahan
Penelitian membagi permasalahan
menjadi sub-sub permasalahan
yang lebih dapat dikelola.
Setiap sub permasalahan mencari
petunjuk melalui pertanyaan
penelitian yang spesifik atau
hipotesis yang sesuai.
Penelitian mengajukan
solusi sementara terhadap
permasalahan penelitian
melalui hipotesis
yang sesuai.
Hipotesis tersebut
mengarahkan peneliti
dalam mengumpulkan data.
Penelitian mencari data
diarahkan oleh hipotesis dan
dibimbing oleh permasalahan.
Data dikumpulkan dan
diorganisasikan.
Penelitian menginterpretasikan
arti data, yang mengarah pada
pengatasan permasalahan, yaitu
memberi konfirmasi atau menolak
hipotesis dan/atau memberi
jawaban terhadap permasalahan
yang memulai penelitian itu.
Penelitian
berbentuk
proses
siklis
1
2
4 3
5
6
Penelitian menahan sementara hipotesis atau pertanyaan sampai
semua data terkumpul dan dinterpretasikan. Setelah itu,
hipotesis didukung atau ditolak; pertanyaan secara memadai
terjawab atau tidak.
Gambar 1: Siklus penelitian
(sumber: Leedy, 1997: 10, Fig. 1.1)
Macam Tujuan Penelitian
Seperti dijelaskan di atas, penelitian berkaitan dengan pertanyaan atau keinginan
tahu manusia (yang tidak ada hentinya) dan upaya (terus menerus) untuk mencari jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dengan demikian, tujuan terujung suatu penelitian
adalah untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan dan menemukan jawaban-jawaban
terhadap pertanyaan penelitian tersebut. Tujuan dapat beranak cabang yang mendorong
penelitian lebih lanjut. Tidak satu orangpun mampu mengajukan semua pertanyaan, dan
6— Pengantar: Apakah Penelitian itu?
demikian pula tak seorangpun sanggup menemukan semua jawaban bahkan hanya untuk
satu pertanyaan saja. Maka, kita perlu membatasi upaya kita dengan cara membatasi
tujuan penelitian. Terdapat bermacam tujuan penelitian, dipandang dari usaha untuk
membatasi ini, yaitu:
1) eksplorasi (exploration)
2) deskripsi (description)
3) prediksi (prediction)
4) eksplanasi (explanation) dan
5) aksi (action).
Penjelasan untuk tiap macam tujuan diberikan di bawah ini. Tapi perlu kita ingat bahwa
penentuan tujuan, salah satunya, dipengaruhi oleh kemajuan ilmu pengethaun yang terkait
dengan permasalahan yang kita hadapi (“state of the art”). Misal, bila masih “samarsamar”,
maka kita perlu bertujuan untuk menjelajahi (eksplorasi) dulu. Bila sudah pernah
dijelajahi dengan cukup, maka kita coba terangkan (deskripsikan) lebih lanjut.
1. Eksplorasi
Seperti disebutkan di atas, bila kita ingin menjelajahi (mengeksplorasi) suatu topik
(permasalahan), atau untuk mulai memahami suatu topik, maka kita lakukan penelitian
eksplorasi. Penelitian esplorasi (menjelajah) berkaitan dengan upaya untuk menentukan
apakah suatu fenomena ada atau tidak. Penelitian yang mempunyai tujuan seperti ini dipakai
untuk menjawab bentuk pertanyaan “Apakah X ada/terjadi?”. Contoh penelitian sederhana
(dalam ilmu sosial): Apakah laki-laki atau wanita mempunyai kcenderungan duduk di bagian
depan kelas atau tidak? Bila salah satu pihak atau keduanya mempunyai kecend erungan itu,
maka kita mendapati suatu fenomena (yang mendorong penelitian lebih lanjut). Penelitian
eksplorasi dapat juga sangat kompleks.
Umumnya, peneliti memilih tujuan eksplorasi karena tuga macam maksud, yaitu: (a)
memuaskan keingintahuan awal dan nantinya ingin lebih memahami, (b) menguji kelayakan
dalam melakukan penelitian/studi yang lebih mendalam nantinya, dan (c) mengembangkan
metode yang akan dipakai dalam penelitian yang lebih mendalam. Hasil penelitian
eksplorasi, karena merupakan penelitian penjelajahan, maka sering dianggap tidak
memuaskan. Kekurang-puasan terhadap hasil penelitian ini umumnya terkait dengan
masalah sampling (representativeness)—menurut Babbie 1989: 80. Tapi perlu kita sadari
bahwa penjelajahan memang berarti “pembukaan jalan”, sehingga setelah “pintu terbuka
lebar-lebar” maka diperlukan penelitian yang lebih mendalam dan terfokus pada sebagian
dari “ruang di balik pintu yang telah terbuka” tadi.
2. Deskripsi
Pengantar: Apakah Penelitian itu?—7
Penelitian deskriptif berkaitan dengan pengkajian fenomena secara lebih rinci atau
membedakannya dengan fenomena yang lain. Sebagai contoh, meneruskan contoh pada
bahasan penelitian eksplorasi di atas, yaitu misal: ternyata wanita lebih cenderung duduk di
bagian depan kelas daripada laki-laki, maka penelitian lebih lanjut untuk lebih memerinci:
misalnya, apa batas atau pengertian yang lebih tegas tentang “bagian depan kelas”? Apakah
duduk di muka tersebut berkaitan dengan macam mata pelajaran? tingkat kemenarikan guru
yang mengajar? ukuran kelas? Penelitian deskriptif menangkap ciri khas suatu obyek,
seseorang, atau suatu kejadian pada waktu data dikumpulkan, dan ciri khas tersebut
mungkin berubah dengan perkembangan waktu. Tapi hal ini bukan berarti hasil penelitian
waktu lalu tidak berguna, dari hasil-hasil tersebut kita dapat melihat perkembangan
perubahan suatu fenomena dari masa ke masa.
3. Prediksi
Penelitian prediksi berupaya mengidentifikasi hubungan (keterkaitan) yang
memungkinkan kita berspekulasi (menghitung) tentang sesuatu hal (X) dengan mengetahui
(berdasar) hal yang lain (Y). Prediksi sering kita pakai sehari-hari, misalnya dalam menerima
mahasiswa baru, kita gunakan skor minimal tertentu—yang artinya dengan skor tersebut,
mahasiswa mempunyai kemungkinan besar untuk berhasil dalam studinya (prediksi
hubungan antara skor ujian masuk dengan tingkat keberhasilan studi nantinya).
4. Eksplanasi
Penelitian eksplanasi mengkaji hubungan sebab-akibat diantara dua fenomena atau
lebih. Penelitian seperti ini dipakai untuk menentukan apakah suatu eksplanasi (keterkaitan
sebab-akibat) valid atau tidak, atau menentukan mana yang lebih valid diantara dua (atau
lebih) eksplanasi yang saling bersaing. Penelitian eksplanasi (menerangkan) juga dapat
bertujuan menjelaskan, misalnya, “mengapa” suatu kota tipe tertentu mempunyai tingkat
kejahatan lebih tinggi dari kota-kota tipe lainnya. Catatan: dalam penelitian deskriptif hanya
dijelaskan bahwa tingkat kejahatan di kota tipe tersebut berbeda dengan di kota-kota tipe
lainnya, tapi tidak dijelaskan “mengapa” (hubungan sebab-akibat) hal tersebut terjadi.
8— Pengantar: Apakah Penelitian itu?
5. Aksi
Penelitian aksi (tindakan) dapat meneruskan salah satu tujuan di atas dengan
penetapan persyaratan untuk menemukan solusi dengan bertindak sesuatu. Penelitian ini
umumnya dilakukan dengan eksperimen tidakan dan mengamati hasilnya; berdasar hasil
tersebut disusun persyaratan solusi. Misal, diketahui fenomena bahwa meskipun suhu udara
luar sudah lebih dingin dari suhu ruang, orang tetap memakai AC (tidak mematikannya).
Dalam eksperimen penelitian tindakan dibuat berbagai alat bantu mengingatkan orang
bahwa udara luar sudah lebih dingin dari udara dalam. Ternyata dari beberapa alat bantu,
ada satu yang paling dapat diterima. Dari temuan itu disusun persyaratan solusi terhadap
fenomena di atas.
Hubungan Penelitian dengan Perancangan
Hasil penelitian, antara lain berupa teori, disumbangkan ke khazanah ilmu
pengetahuan, sedangkan ilmu yang ada di khazanah tersebut dimanfaatkan oleh para
perancang/perencana/pengembang untuk melakukan kegiatan dalam bidang keahliannya.
Menurut Zeisel (1981), perancangan mempunyai tiga langkah utama, yaitu: imaging,
presenting dan testing, sedangkan imaging dilakukan berdasar empirical knowledge.
Perancangan/perencanaan/pengembangan, selain menggunakan pengetahuan dari khazanah
ilmu pengetahuan, juga mempertimbangkan hal-hal lain, seperti estetika, perhitungan
ekonomis, dan kadang pertimbangan politis, dan lain-lain. Terhadap hasil
perencanaan/perancangan/pengembangan juga dapat dilakukan penelitian evaluasi yang
hasilnya juga akan memperkaya khazanah ilmu pengetahuan.
iKainheRe
:::: tHe fRienDLy kinDLy cHeeRy giRL ::::
PENGANTAR:
APAKAH PENELITIAN
ITU?
Tulisan Asli:
Babbie, Earl. 1989. The Practice of Social Research. Fifth Edition. Wadsworth Publishing Company,
Belmont, California. Hal. 80-82.
Dane, Francis C. 1990. Research Methods. Brooks/Cole Publishing Company, Belmont, California.
Chapter 1: "Introduction", hal. 3-19.
Leedy, Paul D. 1997. Practical Research: Planning and Design. Sixth Edition. Prectice Hall, Upper
Saddle River, New Jersey. Chapter 1: “What Is Research?”, hal. 3-15.
Zeisel, John. 1981. Inquiry By Design: Tools for Environment-Behavior Research. Cambridge
University Press, Cambridge. Chapters 1, 2, 3. Hal. 3-50
Digabung, diterjemahkan, disingkat dan dimodifikasi untuk kepentingan kuliah Metodologi Penelitian di
tingkat program pascasarjana oleh:
Achmad Djunaedi (2000).
Daftar Isi Bab ini: Halaman:
Pengertian yang salah tentang Penelitian 2
Pengertian yang benar tentang Penelitian dan
Karakteristik Proses Penelitian 4
Macam Tujuan Penelitian 5
Hubungan Penelitian dengan Perancangan 8
ata penelitian atau riset dipergunakan dalam pembicaraan sehari-hari untuk melingkup
spektrum arti yang luas, yang dapat membuat bingung mahasiswa—terutama mahasiswa
pascasarjana—yang harus mempelajari arti kata tersebut dengan tanda-tanda atau petunjuk
yang jelas untuk membedakan yang satu dengan yang lain. Dapat saja, sesuatu yang dulunya
dikenali sebagai penelitian ternyata bukan, dan beberapa konsep yang salah tentunya harus
dibuang dan diganti konsep yang benar.
Pada dasarnya, manusia selalu ingin tahu dan ini mendorong manusia untuk bertanya
dan mencari jawaban atas pertanyaan itu. Salah satu cara untuk mencari jawaban adalah
dengan mengadakan penelitian. Cara lain yang lebih mudah, tentunya, adalah dengan
bertanya pada seseorang atau “bertanya” pada buku—tapi kita tidak selalu dapat
mendapat jawaban, atau kita mungkin mendapatkan jawaban tapi tidak meyakinkan.
K
2— Pengantar: Apakah Penelitian itu?
Pengertian penelitian sering dicampuradukkan dengan: pengumpulan data atau
informasi, studi pustaka, kajian dokumentasi, penulisan makalah, perubahan kecil pada
suatu produk, dan sebagainya. Kata penelitian atau riset sering dikonotasikan dengan
bekerja secara eksklusif menyendiri di laboratorium, di perpustakaan, dan lepas dari
kehidupan sehari-hari.
Menjadi tujuan bab ini untuk menjelaskan pengertian penelitian dan
membedakannya dengan hal-hal yang bukan penelitian. Pengertian penelitian yang
disarankan oleh Leedy (1997: 3) sebagai berikut:
Penelitian (riset) adalah proses yang sistematis meliputi pengumpulan dan analisis informasi
(data) dalam rangka meningkatkan pengertian kita tentang fenomena yang kita minati atau
menjadi perhatian kita.
Mirip dengan pengertian di atas, Dane (1990: 4) menyarankan definisi sebagai berikut:
Penelitian merupakan proses kritis untuk mengajukan pertanyaan dan berupaya untuk
menjawab pertanyaan tentang fakta dunia.
Seperti disebutkan di atas, mungkin di masa lalu, kita mendapatkan banyak konsep
(pengertian) tentang penelitian, yang sebagian daripadanya merupakan konsep yang salah.
Untuk memperjelas hal tersebut, di bawah ini dikaji pengertian yang “salah” tentang
penelitian (menurut kita—kaum akademisi).
Pengertian yang salah tentang Penelitian
Secara umum, berdasar konsep-konsep yang “salah” tentang penelitian, maka perlu
digarisbawahi empat pengertian sebagai berikut:
(1) Penelitian bukan hanya mengumpulkan informasi (data)
(2) Penelitian bukan hanya memindahkan fakta dari suatu tempat ke tempat lain
(3) Penelitian bukan hanya membongkar-bongkar mencari informasi
(4) Penelitian bukan suatu kata besar untuk menarik perhatian.
Lebih lanjut kesalahan pengertian tersebut dijelaskan di bawah ini.
1. Penelitian bukan hanya mengumpulkan informasi (data)
Pernah suatu ketika, seorang mahasiswa mengajukan usul (proposal) penelitian
untuk “meneliti” sudut kemiringan sebuah menara pemancar TV di kotanya. Ia mengusulkan
untuk menggunakan peralatan canggih dari bidang keteknikan untuk mengukur kemiringan
menara tersebut. Meskipun peralatannya canggih, tetapi yang ia lakukan sebenarnya
Pengantar: Apakah Penelitian itu?—3
hanyalah suatu survei (pengumpulan data/informasi) saja, yaitu mengukur kemiringan
menara tersebut, dan survei itu bukan penelitian (tapi bagian dari suatu penelitian).
Para siswa suatu SD kelas 4 diajak gurunya untuk melakukan “penelitian” di
perpustakaan. Salah seorang siswa mempelajari tentang Columbus dari beberapa buku.
Sewaktu pulang ke rumah, ia melapor kepada ibunya bahwa ia baru saja melakukan
penelitian tentang Columbus. Sebenarnya, yang ia lakukan hanya sekedar mengumpulkan
informasi, bukan penelitian. Mungkin gurunya bermaksud untuk mengajarkan keahlian
mencari informasi dari pustaka (reference skills).
2. Penelitian bukan hanya memindahkan fakta dari suatu tempat ke tempat lain
Seorang mahasiswa telah menyelesaikan sebuah makalah tugas “penelitian” tentang
teknik -teknik pembangunan bangunan tinggi di Jakarta. Ia telah berhasil mengumpulkan
banyak artikel dari suatu majalah konstruksi bangunan dan secara sistematis melaporkannya
dalam makalahnya, dengan disertai teknik acuan yang benar. Ia mengira telah melakukan
suatu penelitian dan menyusun makalah penelitian. Sebenarnya, yang ia lakukan hanyalah:
mengumpulkan informasi/data, merakit kutipan-kutipan pustaka dengan teknik pengacuan
yang benar. Untuk disebut sebagai penelitian, yang dikerjakannya kurang satu hal, yaitu:
interpretasi data. Hal ini dapat dilakukan dengan cara antara lain menambahkan misalnya:
“Fakta yang terkumpul menunjukkan indikasi bahwa faktor x dan y sangat mempengaruhi
cara pembangunan bangunan tinggi di Jakarta”. Dengan demikian, ia bukan hanya
memindahkan informasi/data/fakta dari artikel majalah ke makalahnya, tapi juga menganalis
informasi/data/fakta sehingga ia mampu untuk menyusun interpretasi terhadap
informasi/data/fakta yang terkumpul tersebut.
3. Penelitian bukan hanya membongkar-bongkar mencari informasi
Seorang Menteri menyuruh stafnya untuk memilihkan empat buah kotamadya (di
wilayah Indonesia bagian timur) yang memenuhi beberapa kriteria untuk diberi bantuan
pembangunan prasarana dasar perkotaan. Stafnya tersebut berpikir bahwa ia harus
melakukan “penelitian”. Ia kemudian pergi ke Kantor Statistik, membongkar
arsip/dokumen statistik kotamadya -kotamadya yang ada di wilayah IBT tersebut. Dengan
membandingkan data statistik yang terkumpul dengan kriteria yang diberi oleh Menteri, ia
berhasil memilih empat kotamadya yang paling memenuhi kriteria-kriteria tersebut. Staf
tersebut melaporkan hasil “penelitiannya” ke Menteri. Sebenarnya yang dilakukan oleh staf
tersebut hanyalah mencari data (data searching, rummaging) dan mencocokknnya
(matching) dengan kriteria , dan itu bukan penelitian.
4. Penelitian bukan suatu kata besar untuk menarik perhatian
4— Pengantar: Apakah Penelitian itu?
Kata “…penelitian” sering dipakai oleh surat kabar, majalah populer, dan iklan
untuk menarik perhatian (“mendramatisir”). Misalnya, berita di surat kabar: “Presiden akan
melakukan penelitian terhadap Pangdam yang ingin ‘mreteli’ kekuasaan Presiden”. Contoh
lain: berita “Semua anggota DPRD tidak perlu lagi menjalani penelitian khusus (litsus)”.
Contoh lain lagi: “Produk ini merupakan hasil penelitian bertahun-tahun” (padahal hanya
dirubah sedikit formulanya dan namanya diganti agar konsumen tidak bosan).
Pengertian yang benar tentang Penelitian dan Karakteristik Proses
Penelitian
Pengertian yang benar tentang penelitian sebagai berikut, menurut Leedy (1997: 5):
Penelitian adalah suatu proses untuk mencapai (secara sistematis dan didukung oleh data)
jawaban terhadap suatu pertanyaan, penyelesaian terhadap permasalahan, atau pemahaman
yang dalam terhadap suatu fenomena.
Proses tersebut, yang sering disebut sebagai metodologi penelitian, mempunyai delapan
macam karakteristik:
1) Penelitian dimulai dengan suatu pertanyaan atau permasalahan.
2) Penelitian memerlukan pernyataan yang jelas tentang tujuan.
3) Penelitian mengikuti rancangan prosedur yang spesifik.
4) Penelitian biasanya membagi permasalahan utama menjadi sub-sub masalah yang lebih
dapat dikelola.
5) Penelitian diarahkan oleh permasalahan, pertanyaan, atau hipotesis penelitian yang
spesifik.
6) Penelitian menerima asumsi kritis tertentu.
7) Penelitian memerlukan pengumpulan dan interpretasi data dalam upaya untuk
mengatasi permasalahan yang mengawali penelitian.
8) Penelitian adalah, secara alamiahnya, berputar secara siklus; atau lebih tepatnya,
helikal—seperti terlihat pada gambar di bawah ini.
Pengantar: Apakah Penelitian itu?—5
Penelitian dimulai dengan
sebuah permasalahan:
sebuah pertanyaan
yang belum terjawab
di pikiran peneliti
Penelitian melihat tujuan
dalam suatu
pernyataan permasalahan
Penelitian membagi permasalahan
menjadi sub-sub permasalahan
yang lebih dapat dikelola.
Setiap sub permasalahan mencari
petunjuk melalui pertanyaan
penelitian yang spesifik atau
hipotesis yang sesuai.
Penelitian mengajukan
solusi sementara terhadap
permasalahan penelitian
melalui hipotesis
yang sesuai.
Hipotesis tersebut
mengarahkan peneliti
dalam mengumpulkan data.
Penelitian mencari data
diarahkan oleh hipotesis dan
dibimbing oleh permasalahan.
Data dikumpulkan dan
diorganisasikan.
Penelitian menginterpretasikan
arti data, yang mengarah pada
pengatasan permasalahan, yaitu
memberi konfirmasi atau menolak
hipotesis dan/atau memberi
jawaban terhadap permasalahan
yang memulai penelitian itu.
Penelitian
berbentuk
proses
siklis
1
2
4 3
5
6
Penelitian menahan sementara hipotesis atau pertanyaan sampai
semua data terkumpul dan dinterpretasikan. Setelah itu,
hipotesis didukung atau ditolak; pertanyaan secara memadai
terjawab atau tidak.
Gambar 1: Siklus penelitian
(sumber: Leedy, 1997: 10, Fig. 1.1)
Macam Tujuan Penelitian
Seperti dijelaskan di atas, penelitian berkaitan dengan pertanyaan atau keinginan
tahu manusia (yang tidak ada hentinya) dan upaya (terus menerus) untuk mencari jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dengan demikian, tujuan terujung suatu penelitian
adalah untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan dan menemukan jawaban-jawaban
terhadap pertanyaan penelitian tersebut. Tujuan dapat beranak cabang yang mendorong
penelitian lebih lanjut. Tidak satu orangpun mampu mengajukan semua pertanyaan, dan
6— Pengantar: Apakah Penelitian itu?
demikian pula tak seorangpun sanggup menemukan semua jawaban bahkan hanya untuk
satu pertanyaan saja. Maka, kita perlu membatasi upaya kita dengan cara membatasi
tujuan penelitian. Terdapat bermacam tujuan penelitian, dipandang dari usaha untuk
membatasi ini, yaitu:
1) eksplorasi (exploration)
2) deskripsi (description)
3) prediksi (prediction)
4) eksplanasi (explanation) dan
5) aksi (action).
Penjelasan untuk tiap macam tujuan diberikan di bawah ini. Tapi perlu kita ingat bahwa
penentuan tujuan, salah satunya, dipengaruhi oleh kemajuan ilmu pengethaun yang terkait
dengan permasalahan yang kita hadapi (“state of the art”). Misal, bila masih “samarsamar”,
maka kita perlu bertujuan untuk menjelajahi (eksplorasi) dulu. Bila sudah pernah
dijelajahi dengan cukup, maka kita coba terangkan (deskripsikan) lebih lanjut.
1. Eksplorasi
Seperti disebutkan di atas, bila kita ingin menjelajahi (mengeksplorasi) suatu topik
(permasalahan), atau untuk mulai memahami suatu topik, maka kita lakukan penelitian
eksplorasi. Penelitian esplorasi (menjelajah) berkaitan dengan upaya untuk menentukan
apakah suatu fenomena ada atau tidak. Penelitian yang mempunyai tujuan seperti ini dipakai
untuk menjawab bentuk pertanyaan “Apakah X ada/terjadi?”. Contoh penelitian sederhana
(dalam ilmu sosial): Apakah laki-laki atau wanita mempunyai kcenderungan duduk di bagian
depan kelas atau tidak? Bila salah satu pihak atau keduanya mempunyai kecend erungan itu,
maka kita mendapati suatu fenomena (yang mendorong penelitian lebih lanjut). Penelitian
eksplorasi dapat juga sangat kompleks.
Umumnya, peneliti memilih tujuan eksplorasi karena tuga macam maksud, yaitu: (a)
memuaskan keingintahuan awal dan nantinya ingin lebih memahami, (b) menguji kelayakan
dalam melakukan penelitian/studi yang lebih mendalam nantinya, dan (c) mengembangkan
metode yang akan dipakai dalam penelitian yang lebih mendalam. Hasil penelitian
eksplorasi, karena merupakan penelitian penjelajahan, maka sering dianggap tidak
memuaskan. Kekurang-puasan terhadap hasil penelitian ini umumnya terkait dengan
masalah sampling (representativeness)—menurut Babbie 1989: 80. Tapi perlu kita sadari
bahwa penjelajahan memang berarti “pembukaan jalan”, sehingga setelah “pintu terbuka
lebar-lebar” maka diperlukan penelitian yang lebih mendalam dan terfokus pada sebagian
dari “ruang di balik pintu yang telah terbuka” tadi.
2. Deskripsi
Pengantar: Apakah Penelitian itu?—7
Penelitian deskriptif berkaitan dengan pengkajian fenomena secara lebih rinci atau
membedakannya dengan fenomena yang lain. Sebagai contoh, meneruskan contoh pada
bahasan penelitian eksplorasi di atas, yaitu misal: ternyata wanita lebih cenderung duduk di
bagian depan kelas daripada laki-laki, maka penelitian lebih lanjut untuk lebih memerinci:
misalnya, apa batas atau pengertian yang lebih tegas tentang “bagian depan kelas”? Apakah
duduk di muka tersebut berkaitan dengan macam mata pelajaran? tingkat kemenarikan guru
yang mengajar? ukuran kelas? Penelitian deskriptif menangkap ciri khas suatu obyek,
seseorang, atau suatu kejadian pada waktu data dikumpulkan, dan ciri khas tersebut
mungkin berubah dengan perkembangan waktu. Tapi hal ini bukan berarti hasil penelitian
waktu lalu tidak berguna, dari hasil-hasil tersebut kita dapat melihat perkembangan
perubahan suatu fenomena dari masa ke masa.
3. Prediksi
Penelitian prediksi berupaya mengidentifikasi hubungan (keterkaitan) yang
memungkinkan kita berspekulasi (menghitung) tentang sesuatu hal (X) dengan mengetahui
(berdasar) hal yang lain (Y). Prediksi sering kita pakai sehari-hari, misalnya dalam menerima
mahasiswa baru, kita gunakan skor minimal tertentu—yang artinya dengan skor tersebut,
mahasiswa mempunyai kemungkinan besar untuk berhasil dalam studinya (prediksi
hubungan antara skor ujian masuk dengan tingkat keberhasilan studi nantinya).
4. Eksplanasi
Penelitian eksplanasi mengkaji hubungan sebab-akibat diantara dua fenomena atau
lebih. Penelitian seperti ini dipakai untuk menentukan apakah suatu eksplanasi (keterkaitan
sebab-akibat) valid atau tidak, atau menentukan mana yang lebih valid diantara dua (atau
lebih) eksplanasi yang saling bersaing. Penelitian eksplanasi (menerangkan) juga dapat
bertujuan menjelaskan, misalnya, “mengapa” suatu kota tipe tertentu mempunyai tingkat
kejahatan lebih tinggi dari kota-kota tipe lainnya. Catatan: dalam penelitian deskriptif hanya
dijelaskan bahwa tingkat kejahatan di kota tipe tersebut berbeda dengan di kota-kota tipe
lainnya, tapi tidak dijelaskan “mengapa” (hubungan sebab-akibat) hal tersebut terjadi.
8— Pengantar: Apakah Penelitian itu?
5. Aksi
Penelitian aksi (tindakan) dapat meneruskan salah satu tujuan di atas dengan
penetapan persyaratan untuk menemukan solusi dengan bertindak sesuatu. Penelitian ini
umumnya dilakukan dengan eksperimen tidakan dan mengamati hasilnya; berdasar hasil
tersebut disusun persyaratan solusi. Misal, diketahui fenomena bahwa meskipun suhu udara
luar sudah lebih dingin dari suhu ruang, orang tetap memakai AC (tidak mematikannya).
Dalam eksperimen penelitian tindakan dibuat berbagai alat bantu mengingatkan orang
bahwa udara luar sudah lebih dingin dari udara dalam. Ternyata dari beberapa alat bantu,
ada satu yang paling dapat diterima. Dari temuan itu disusun persyaratan solusi terhadap
fenomena di atas.
Hubungan Penelitian dengan Perancangan
Hasil penelitian, antara lain berupa teori, disumbangkan ke khazanah ilmu
pengetahuan, sedangkan ilmu yang ada di khazanah tersebut dimanfaatkan oleh para
perancang/perencana/pengembang untuk melakukan kegiatan dalam bidang keahliannya.
Menurut Zeisel (1981), perancangan mempunyai tiga langkah utama, yaitu: imaging,
presenting dan testing, sedangkan imaging dilakukan berdasar empirical knowledge.
Perancangan/perencanaan/pengembangan, selain menggunakan pengetahuan dari khazanah
ilmu pengetahuan, juga mempertimbangkan hal-hal lain, seperti estetika, perhitungan
ekonomis, dan kadang pertimbangan politis, dan lain-lain. Terhadap hasil
perencanaan/perancangan/pengembangan juga dapat dilakukan penelitian evaluasi yang
hasilnya juga akan memperkaya khazanah ilmu pengetahuan.
:::: tHe fRienDLy kinDLy cHeeRy giRL ::::
Label:
Metodologi Penelitian
Langganan:
Postingan (Atom)