weLCome to iKainheRe's hOmepaGe

Open youR mind and iMpROve youR LiFe............
Get infoRmation about aLL heRe.

oPen YouR minD

Jika diRimu tak mampu menJadi beRingin, yanG teGak di kaki bukit,
JadiLah saJa beLukaR yanG teRbaik, yanG tumbuh di tepi danau . . . . .
Jika diRimu tak sanGGup menJadi beLukaR, JadiLah saJa Rumput,
tetapi Rumput yanG mempeRkuat tanGGuL, di pinGGiRan JaLan . . . .
Jika diRimu tak mampu menJadi JaLan Raya, JadiLah saJa JaLan setapak,
tetapi JaLan setapak yanG membawa oRanG ke mata aiR . . .
tidak semua menJadi kapten
tentu haRus aDa awak kapaLnYa . . .
JadiLah saJa diRimu .......... be yOuR seLf..
sebaik-baik daRi diRimu sendiRi ^_^

iKainheRe Tells About Her Self

Kenalin, gw Ika. iKainheRe Just the same with another women. iKainheRe
Hanya ajja gw suka banget bikin orang senyum, ketawa, dengan hidangan yang gw suguhkan.
iKainheRe
Gw sangat menghargai preferen, pendapat, masukan, kritikan, tapi bukan menjudge. iKainheRe
iKainheReJust be my self. Dengan style, brave life, color friends, and dunia gw.iKainheRe
iKainheRe Menjadi seorang penulis yang brave, eksis, dan stylish itu gga gampang, semua dari nol. Contemplative comedy gw pilih buat mewakili apa yang pengen gw sampaikan.
Komedi selalu bisa mengungkapkan apa yang tak bisa kita pahami. iKainheRe
Seperti kata Moliere, “The duty of comedy is to correct men by amusing them.” iKainheRe
Banyak orang yang bilang, penulis yang baik adalah penulis yang punya referensi yang banyak, menurut gw itu bener. Banyak-banyaklah nonton film dan baca buku.
Penulis yang baik juga akan selalu mengadopsi dan mempelajari, tapi tidak pernah mencuri.iKainheRe
Mudah-mudahan gw bisa iKainheRe

Agustus 25, 2010

Jendela Kapal

“Maaf aku terlambat,” kata Luna berhenti dari lari-lari kecilnya kemudian duduk di atas karang kecil tempat dia menunggu malam setiap hari.

“Kenapa,”

“Dia mengajakku berbincang mengenai perasaan,”

“Hah?” tanya Senja

“Kau tahu bagaimana hatiku saat dia mengajakku berbincang mengenai perasaan?” kataku

“Aku ingat dulu samudera pernah berbincang padaku mengenai perasaan, dan itu membuatku tak mau menenggelamkan diri meski waktuku tiba untuk digantikan dengan rembulan,” jawab Senja

“Bagiku, kapalku tak ada arah…”

“Bagaimana bisa….”

“Setidaknya untuk saat ini. Sejak saat itu.”

“Kau selalu membingungkan,” desis Senja

“Kau tahu kan selama ini bagaimana aku mengemudikan kapal itu sendiri. Hampir sepanjang waktu. Kadang aku tak sanggup memegang kemudi hingga kapal kami terbawa angin. Kadang aku tak sanggup menjaga kapal kami berada dalam jalurnya hingga kapal kami berbelok arah, berputar-putar, terbawa arus. Kadang aku lelah harus hampir sepanjang waktu mengemudikan sendiri,”

“Ada dia, kan?” desak Senja

Luna hanya menjawabnya dengan tersenyum. Luna sadar bahwa memang ada lelaki itu selama ini bersamanya. Tapi sama saja karena Luna sendiri yang harus mengemudikan kapal itu.

“Kenapa diam? Aku bertanya,” tanya Senja lagi

“Kau tak tahu jawabannya padahal selama ini kita selalu berbincang mengenainya disini, menanti malam?” Aku balik bertanya padanya

“Lalu bagaimana perasaanmu sesungguhnya?”

“Malam itu, kapal kami kehilangan kendali, aku yang berada di kemudi tak sanggup memutar kemudi itu. Kau tahu apa penyebabnya? Jendela bagian bawah kapal yang berada tepat diatas genangan samudera terbuka. Aku sudah meminta dirinya untuk memastikan kaca jendela itu sudah tertutup setiap malam akan tiba, tapi kala itu kaca itu tidak tertutup.” Jelasku

“Lalu?”

“Kau tahu, angin laut, badai itu, yang malam itu menerjang samudera, menerobos ke dalam tentu saja dan itu membuat kapal kami kehilangan kendali.”

“Dan kau lantas menyalahkannya?”

“Jadi menurutmu dia tidak salah?”

“Itu kapal kalian, kau ikut andil disana, jangan lantas toh menyalahkannya,”

“Aku selalu menjaga kapalku Senja, kau tahu itu kan. Maksudku, aku selalu ingat apa saja kewajibanku disana. Apa tanggungjawabku disana aku tahu. Memastikan jendela tertutup saja apa susahnya?”

“Itu kelalaiannya saja, mengertilah,”

“Lebih tepat kesengajaannya,” belaku

Senja tersenyum dan berpikir lagi seandainya bertukar peran dengan Luna.

“Kau sudah berbincang dengannya mengenai kesengajaan itu?”

“Sudah,”

“Lalu?”

“Dia bilang dia tidak sengaja,” jawabku

Senja tersenyum. Lalu dia menggantikan warna dirinya dengan warna oranye yang indah sekali, membuat ujung awan menjadi kemerahan. Dan posisinya pun semakin menurun.

“Waktu kita tak banyak lagi,” kataku sedih

“Masih beberapa. Yah aku tahu bagaimana rasanya merasa solah sendiri dalam menjaga sesuatu seperti dirimu yang menjaga kapal kalian misalnya. Kau pasti cinta kapalmu. Dan dalam cinta itu ada namanya pengorbanan. Beberapa waktu lalu aku sudah mengajakmu berbincang mengenai pengorbanan dank au pasti ingat itu. Satu kata, ikhlas, bawa itu dan kau akan selamat sampai tujuanmu.”

“Benar mungkin aku belum ikhlas,”

“Kapal kalian terkena badai, pasti kau juga tahu kalau badai hanya satu dari sekian banyak risiko yang kau tahu akan kalian alami dalam perjalanan, kan? Jangan badai membuat kapal kalian berhenti. Jangan berbalik arah untuk kembali. Jangan biarkan kapal kalian tenggelam. Kau ingin ke pulau itu kan? Kesanalah apapun yang terjadi, selama kau bersamanya kalian pasti bisa.”

Senja menghitam….

“Aku kadang lelah,”

“Kau lelah karena tak pernah berbincang padanya mengenai kebersamaan. Coba kau biarkan dia pegang kemudi hampir sepanjang waktu, dan dia akan lebih menghargai perjalanan kalian. Aku harus pergi, malam akan memanggil rembulan sebentar lagi. Besok di waktu dan tempat yang sama, ya.” Senja mengerling

“Kau dan oranye kemerahanmu selalu membuatku tenang… Terimakasih,”

“Kembali ke kapalmu, dia menunggumu, kan?”

Luna tertawa kecil dan melambai, beteriak, “Sampai besok….” Tanpa Luna tahu apakah Senja bisa hadir lagi esok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sertakan juga alamat blog anda dalam komentar anda
atau alamat website anda

TerimaKasih